Selasa, 05 Februari 2013

Titah dari Sang ‘Tauladan Terbaik

 “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”

(Shahih Bukhari – Muslim)

Berabad–abad silam pesan ini disampaikan oleh khatamul anbiya. Kini, para ummat-nya mulai mencari-cari dan meresapi hakikat apa sejatinya yang ada di balik nasihat tersebut. Dua dari tiga titah tersebut merupakan kemampuan yang harus dimiliki seorang manusia untuk melakukan perjalanan. Berkuda, dengan menunggang kuda mampu menghantarkan manusia mencapai tujuannya, yakni tiba di negeri yang terhampar (daratan) dengan lebih cepat. Sedangkan, berenang mampu menghantarkan manusia mencapai tujuannya, yakni tiba di negeri seberang yang terhalang oleh perairan. Adapun memanah, merupakan upaya untuk menjaga dan mempertahankan diri dari musuh sekiranya diserang.
Namun, mungkinkah titah itu hanya mengandung sedikit makna?

Titah demi kesehatan

Berkuda

Berkuda sangat baik untuk kesehatan. Seluruh anggota tubuh badan dari kepala hingga ke kaki, dari fisik hingga mental akan mendapat manfaatnya.

Bentuk lekuk badan belakang kuda – tempat di tunggang- baik untuk merawat segala masalah tulang belakang manusia.

Semasa pergerakan galloping yaitu cara hentakan kuda melompat dan berlari, menyebabkan vetebra tulang belakang manusia bergesek antara satu sama lain dalam keadaan harmoni, dan meransang saraf-saraf tulang belakang, seolah-olah diurut.

Seluruh anggota : tulang rangka, otot-otot, organ-organ, serta sistem-sistem dalam tubuh akan teransang secara optimum untuk menjadi semakin sehat. Penunggang kuda yang hebat biasanya bebas dari mengalami sakit belakang. Selain itu menunggang kuda turut mencerahkan mata sebab terdapat ransangan terhadap saraf kranial semasa gerakan ‘galloping’ kuda.

Berenang

Sewaktu berenang, mental, fsik, segala otot dan tulang rangka digerakkan untuk membuat satu gerakan yang berkoordinasi antara dua anggota kaki dan dua anggota tangan, selain merangsang stamina (sistem kardiovaskular ).

Inti dari Renang adalah pengaturan nafas. Dimana Fungsi nafas adalah untuk memasukan atau menghirup oksigen dari Alam  ke dalam tubuh kita melalui paru2. oksigen yg kita hirup masuk ke paru2, lalu aliran darah dari jantung masuk ke paru2. Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) yang bernapas dengan udara. Fungsinya adalah menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Prosesnya disebut "pernapasan eksternal" atau bernapas.

Sebuah kelaziman bahwa bila Tubuh atau otot bergerak pasti membutuhkan energi, setiap rekasi metabolisme tubuh kebanyakan di tubuh kita melibatkan oksigen, oksigen akan bereksi dengan ATP dalam organ, sel atau jaringan itu sehingga menghasilkan energi/tenaga. Oksigen di bawa oleh darah yg dipompa melalui jantung. Dengan kontraksi otot dan aktifitas organ dalam, maka tubuh akan kekurangan energi atau kebutuhan energi akan semakin meningkat daripada kondisi normal, makanya setelah melakukan  nafas akan terasa suhu tubuh meningkat karena hampir semua  metabolisme akhirnya dirubah menjadi energi panas/panas tubuh. Dengan pengaturan nafas maka bermanfaat bagi ketahanan fisik. Mahir berenang/mengatur nafas akan kuat pernapasannya, dan ini amat besar pengaruhnya bagi kecerdasan ketika asupan oksigen ke otak itu terdistribusi dengan cukup dan kondisi yang prima.

Memanah

Memanah memerlukan konsentrasi dan latihan yang berkesinambungan.  Memanah sasaran yang bergerak tentu lebih sulit daripada sasaran yang diam. Setiap sasaran memiliki karakteristik tersendiri dan sasaran tersebut selalu bergerak gerak. Inti dari semuanya adalah kita belajar  fokus atau konsentrasi artinya kita memfokuskan tenaga suatu titik. Pikiran akan fokus pada target, akan tercapai bila kita bisa mensinergikan antara kekuatan dan  tubuh
dengan  pikiran dan perasaan.

Jadi, fungsi konsentrasi adalah untuk mengendalikan energi setelah dilatih. Karena seluruh tubuh kita bisa dikendalikan oleh otak termasuk sistem energi. Sehingga otak secara cepat dapat memerintahkan secara cepat pada sel tuk melepaskan energinya, Misalnya aktifitas yang memerlukan akselarasi energi secara cepat contohnya dalam  pertempuran dan pertarungan, menghancurkan benda2 keras dll.

Memanah sangat menitikberatkan pada body balancing. Maka jika pemanah emosinya tertekan, maka panahan amat mudah tersasar. Secara tidak langsung, hal ini melatih manusia bertenang dan menstabilkan emosi. Individu yang tidak tenang, tergesa-gesa, pemarah, kurang sabar atau kurang sehat mentalnya tidak akan menjadi pemanah yang baik.

Titah demi kehidupan

Berkuda

Berkuda memerlukan kemampuan untuk mengendalikan. Pengendalian seperti apa yang dimaksud?

Diriwayatkan, suatu hari Abdullah bin Mubarak melihat seekor kuda yang dijual di pasar dengan harga 40 dirham.

“Murah sekali,“ kata Abdullah bin Mubarak.

“Ya, kuda ini harus dijual karena punya kelainan yang sangat mengecewakan,” komentar penjual kuda.

“Seperti apa kelainannya?” tanya Abdullah.

“Kuda ini tak bisa dipacu. Berhenti saat dikejar musuh, hingga musuh bisa mengejar. Meringkik pada saat disuruh diam.”

“Berarti harganya mahal,“ kata Abdullah sambil ia berjalan meninggalkan penjual kuda tersebut.

Beberapa hari kemudian, murid Abdullah bin Mubarak membelinya. Ketika kuda itu dibawa berperang, ternyata kuda tersebut dapat berperilaku baik.

“Sudahkah kau buktikan kelemahannya?” tanya Abdullah.

“Ya, benar apa yang dikatakan penjual kuda. Tapi setelah kubeli, kuucapkan di telinganya, ‘Hai kuda, telah kutinggalkan dosa-dosaku. Aku sudah taubat dan kembali kepada Allah. Maka kamu juga harus meninggalkan tabiat burukmu.' Kepalanya bergerak-gerak sebanyak tiga kali. Aku gembira melihat jawabannya. Barulah kutahu bahwa tabiat buruk kuda bukan dari kudanya, tapi dari pemiliknya. Kuda itu mengutuk penunggangnya yang kufur (zhalim) kepada Allah hingga jatuh dari punggungnya. Bagiku, ini selaras dengan firman Allah SWT, “Ingatlah, laknat Allah kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. Hud [11] : 18). Jika Allah melaknat sesuatu, maka segala sesuatu akan melaknatnya. Demikian juga dengan kuda ini. Ia melaknat pemiliknya yang kufur hingga ia tak mau menuruti apa yang diperintahkannya.”

Kisah kuda ini menjadi pelajaran penting bahwa hewan saja bisa bereaksi buruk terhadap penunggangnya yang bertabiat buruk. Kita sebagai sesama manusia seharusnya lebih sensitive dan peka terhadap perasaan orang-orang di sekitar. Pengendalian diri berperan penting dalam menjaga keawetan hubungan. Pengendalian diri yang dimaksud berupa perkataan maupun tingkah laku. Oleh karena itu, manusia harus mempunyai rem dalam hidupnya, yaitu pengendalian diri.

Berenang

Mengapa Rasulullah juga berpesan agar anak-anak diajarkan berenang. Padahal, kondisi alam Makkah dan Madinah cukup jauh dari perairan. Lalu, bagaimana caranya agar mereka bisa berenang?

Upaya pertama yang harus dilakukan adalah bergerak. Bergerak menuju tempat air yang melimpah. Setelah menemukan tempat yang kondusif untuk belajar, contoh: laut, sungai, danau, agar bisa berenang, langkah berikutnya yang harus dilakukan juga adalah bergerak. Menggerakkan seluruh anggota untuk menopang badan agar tidak tenggelam ke dasar. Begitulah sejatinya hidup, harus senantiasa bergerak.

Memanah

Memanah itu identik dengan: 1.Sasaran; 2.keteguhan (tangan); 3.kekuatan (menarik gendewanya); dan 4.perkiraan (angin). Jadi, memanah adalah fokus membidik target dan sasaran dalam hidup ini. Bahwa hidup harus mempunyai sasaran yang jelas dan lakukan usaha untuk mencapainya dengan keteguhan, kebulatan tekad dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tiap-tiap sesuatu yang bukan zikrullah berarti permainan dan kelalaian, kecuali empat perkara: Seorang laki-laki berjalan antara dua sasaran (untuk memanah); Seorang yang mendidik kudanya; Bermain-mainnya seseorang dengan isterinya; Belajar berenang.”

(Riwayat Thabarani)

Mereka Mencintai Rasulullah SAW

 Setiap tokoh terkemuka di dunia memiliki orang-orang terdekat yang mendukung dan mencintai mereka. Namun demikian sejarah mencatat tidak ada orang-orang yang begitu dekat dalam persahabatan dan kecintaan melebihi persahabatan dan kecintaan para sahabat kepada Rasulullah saw.

Demikian tinggi rasa cinta dan persahabatan para sahabat Muhajirin dan Anshar terhadap Nabi saw., sampai-sampai mereka lebih mementingkan pribadi Rasulullah saw. dan keluarganya ketimbang diri mereka dan keluarga mereka. Pernah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. mendapatkan pemukulan yang menyebabkan beliau jatuh pingsan setelah membacakan kalamullah di depan Kabah. Kerabatnya lalu bersegera menyelamatkan beliau. Akan tetapi kalimat pertama yang keluar dari lisannya saat tersadar adalah, “Dimana Rasulullah?” Keluarganya merasa gusar dan meninggalkan dirinya.


Rasa cinta para sahabat kepada Rasulullah saw. jauh melebihi kecintaan mereka terhadap anak-anak mereka sendiri. Pada saat Rasulullah saw. marah karena merasa
disusahkan oleh perilaku istri-istri Beliau, datanglah Abu Bakar dan Umar bin Khaththab ra. memarahi putri-putri mereka yang menjadi istri Rasulullah saw. Sedikit pun tidak ada pembelaan terhadap putri-putri mereka.

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa suatu ketika ayahnya, Abu Bakar ra. pernah berkata, “Demi Allah, sungguh aku lebih cinta kepada kerabat Rasulullah saw. daripada kerabatku sendiri,”(HR. Al-Bukhari).

Sebagian sahabat yang di masa jahiliyyah pernah memusuhi Rasulullah saw. dengan sengit, setelah beriman maka berubah menjadi orang-orang yang mencintai Beliau dengan amat dalam. Dari Abu Hurayrah ra. bahwa Tsumamah bin Tsa’labah berkata;

“Ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada di muka bumi ini satu wajah pun yang paling aku benci melebihi wajahmu. Tapi akhirnya wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada satu agama pun yang paling aku benci daripada agamamu, tapi sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada suatu negeri yang paling aku benci daripada negerimu, tapi sekarang negerimu menjadi negeri yang paling aku cintai.”(HR. Muttafaq alayhi).

Kecintaan mereka kepada Nabi saw. ditampakkan dengan ketaatan penuh terhadap setiap perintah dan larangan Allah dan Nabi saw. Tidak ada yang mereka taati demikian besar selain dari keduanya. Bagaimana dengan kita?

MENINGGAL DI DEKAT KA'BAH

Bismillahir-Rah maanir-Rahim ... Aku menuju ke meja makan di kantin universitas setelah aku membayar bon untukku dan sahabat-sahabat ku. Ada seorang sahabat yang telah duduk di dekatku, maka akupun mendekatinya. Kemudian kamipun mengobrol dan bercanda ria.
Salah seorang teman mendahuluiku berkata: "Kamu melihat si Turki?" Kujawab: "Ya, akan tetapi dia sekarang sudah banyak berubah." Dia bertanya lagi: "Kamu sudah menanyakan sebabnya?" Aku menjawab: "Tidak, demi Allah, aku khawatir sebabnya adalah sebuah luka yang justru dia ingin melupakannya. Di zaman sekarang ini banyak yang terjadi seperti itu."


Sahabatku itu terdiam, dan kamipun menyelesaikan sarapan. Saat itu waktu sudah mendekati jam kuliah, maka kamipun beranjak menuju ruang kuliah.
Selang beberapa hari, aku melihat perubahan yang sangat mencolok pada teman Turkiku itu. Akan tetapi aku tidak berani lancang bertanya kepadanya tentang sebab perubahan tersebut. Namun pikiran dan jiwaku terus menerus disibukkan oleh keinginan untuk mengetahui sebab perubahannya.

Lama setelah itu, aku berkumpul bersama si Turki dan seorang sahabat dalam sebuah majelis, kami berbicara sekitar materi perkuliahan dan tentang ujian. Tiba-tiba, sahabatku mendahuluiku bertanya dengan pertanyaan yang sangat membuatku tidak enak, dia bertanya: "Tidakkah engkau tahu sebab perubahan si Turki?" Aku menjawab: "Tidak, demi Allah, namun aku memohon kepada Allah Ta'ala, agar sebabnya adalah sebuah kebaikan."

Pada saat itulah si Turki mengangguk-angg ukkan kepalanya dan memutuskan untuk berbicara. Di antara yang dia katakan adalah:
Pada suatu hari aku pergi ke Makkah untuk umrah, aku masuk bersama dengan sahabat-sahabat ku setelah kaum muslimin menyelesaikan shalat 'Isya'. Kami melihat satu jama'ah shalat dekat dengan pelataran thawaf, maka kamipun shalat bersama mereka, kemudian berdiri untuk memulai umrah kami.

Di sana kami dapati manusia menuju ke satu arah tertentu dari tempat thawaf, dan mereka lebih banyak mendekat ke arah Ka'bah. Kepadatan semakin bertambah hingga kami yakin bahwa sesuatu telah terjadi sebagai penyebab kepadatan yang menarik perhatian setiap orang yang ada di area thawaf
.
Aku dan para sahabatku mendekat, dan aku yang lebih dekat dengan kejadian tersebut daripada mereka. Akupun memecah barisan, dan setiap kali aku mendekat aku melihat perubahan warna (mimik) pada manusia, hingga aku sampai kepada sebab kepadatan manusia tersebut. Apakah yang terjadi?

Seorang laki-laki, yang dari pakaiannya bisa dikenali sebagai orang berkebangsaan Afghanistan atau Pakistan, sudah tua, lebat dan panjang jenggotnya lagi sangat putih yang tidak ditemukan warna hitam pada jenggotnya. Seorang laki-laki yang terlentang di atas tanah, sementara sebagian orang duduk di sisi kepalanya seraya mengatakan la ilaaha illallaah, dan mereka mengulang-ulang nya. Dari sini aku tahu bahwa laki-laki tersebut dalam keadaan sakaratul maut.

Ya Allah, sebuah kejadian yang menegangkan, dan aku tidak mampu untuk menjelaskanya. Seorang laki-laki, menit demi menit berlalu, namun semakin berat dia terlentang di atas tanah, seakan-akan dia adalah sepotong kayu, sementara yang berada di sisi kepalanya mengulang-ulang kalimat la ilaaha illallaah. Di saat itu, mulailah laki-laki tersebut berbicara, namun perkataannya tidak kufahami dan oleh orang yang bersamaku. Aku sangka dia tengah
berbicara dengan bahasanya. Manusiapun mengulang-ulang laa ilaaha illallaah, laa ilaaha illallaah. Sementara dia terus mengulang ucapan yang tidak kami fahami.

Peristiwa tersebut semakin menegangkan, wajah-wajah manusia semakin bertambah perubahannya. Setiap orang yang melihat pemandangan menakutkan ini menjadi pucat. Bagaimana tidak, seorang laki-laki sedang melawan kematian di hadapanmu, sementara manusia mengulang-ulang kalimat laa ilaaha illallaah sedang dia mengulang kalimat dengan bahasanya yang tidak difahami?!
Kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang tidak pernah kulihat sepanjang hidupku, orang yang ada di sisi kepalanyapun mundur dan berdiri bersama kami. Tahukah anda apa yang terjadi?!

Kedua betis laki-laki tersebut bertautan satu sama lain!! Seketika aku mengingat firman Allah Ta'ala:

وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ (٢٩)

"Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)." (QS. Al-Qiyamah: 29)
Seakan-akan baru kali ini ayat tersebut melaluiku!!

Kemudian dia kembali berbicara, namun kali ini dia berbicara dengan suara yang sangat jelas, dengan bahasa yang difahami, dikenal oleh setiap orang yang berdiri saat itu. Dia mengucapkan sebuah kalimat yang diucapkan dan dipahami maknanya oleh setiap muslim di dunia.

Dia berkata dengan sangat jelas: laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah!!
Kemudian terhentilah nafasnya, lemahlah tubuhnya, lunglailah kedua betisnya yang sebelumnya saling bertautan satu sama lain. Setelah itu kami tidak mendengar nafas maupun desahan. Lelaki itupun terdiam, manusia mulai berbicara, namun dengan bahasa air mata, isakan, ratapan, yang ini menangis, yang itu mengucapkan hauqolah (la haula wala quwata illaa billaah), yang di sana beristirja' (innaa lillaah wa innaa ilaihi raaju'uun), seakan-akan lelaki jenazah tersebut adalah bapak bagi seluruh yang hadir, atau saudara mereka.
Betapa banyak orang berkata: "Betapa bahagianya dia, sungguh andai saja akulah yang berada di tempatnya."

Lelaki itupun dibawa, dan sebagian muhsinin mengurusi administrasinya . Keluarganya -yang ada di Makkah- berpendapat agar dia dishalati di Masjidil Haram. Maka kamipun berusaha mengetahui kapan dia dishalati, pada shalat fardhu yang mana. Keesokan harinya kami menshalatinya.

Itu adalah sebuah kejadian yang menghunjam erat di dalam lubuk hatiku. Sebuah kejadian yang tidak mungkin terlupakan oleh berlalunya siang dan malam. Sejak saat itulah, dengan taufiq Allah, keadaanku berubah, dan aku memohon kepada Allah Ta'ala ketetapan di atas al-haq bagiku dan bagimu hingga kita bertemu dengan Allah Ta'ala.

Selesailah kisah dari teman Turki tersebut. Aku memohon kepada Allah ketetapan bagiku, baginya dan bagi setiap ahli tauhid.
Namun, anda sekalian, wahai pembaca yang budiman, bagaimanakah keadaan akhir hayat anda nanti? Akhir penutupan usia anda jika anda menghadapi sakratul maut??!
Apakah anda akan mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah, ataukah akan dikunci atas anda hingga anda tidak mengetahui sesuatupun tentang syahadat?!

Wahai pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa siapa yang tumbuh di atas sesuatu maka dia akan tua di atasnya, dan siapa yang tua di atasnya, maka dia akan mati di atasnya pula.

Sakaratul maut itu seperti gantungan yang ada dalam dada. Maka barangsiapa jiwanya bergantung kepada Allah Ta'ala, mengikuti perintah-perint ah-Nya, meninggalkan larangan-larang an-Nya, maka dialah orang yang sukses dan mendapatkan laba. Namun barangsiapa jiwanya bergantung pada dunia, dia lebih mengutamakannya daripada akhirat, maka dialah orang yang merugi dan menyesal. Maka sungguh celaka dia pada hari penyesalan. Mari kita sadar dan bertaubat sebelum segalanya terlambat.

Calon Presiden RI yang Doyan Sumpah Pocong

Pemilihan umum (pemilu) Presiden Republik Indonesia tinggal satu tahun lagi, yakni pada 2014. Banyak nama yang muncul, baik mencalonkan diri atau dicalonkan partai yang mengusungnya.

Salah satunya adalah Farhat Abbas yang beberapa waktu terakhir selalu muncul dalam berita kontroversi, seperti menjadi pengacara terpidana mati bandar narkoba Franola alias Ola yang mendapat grasi dari Presiden, serta kicauan "pedas" Farhat beberapa hari terakhir di jejaring Twitter yang mendapat banyak hujatan.


Pengacara dan pengusaha ini bahkan mengaku siap melakukan sumpah pocong segala untuk tidak korupsi.
Baginya, sumpah pocong bukan tindakan musrik seperti yang dipahami dalam agama Islam.

"Aku bukan Jawa, Sunda, atau Sumatra, tapi aku orang Indonesia. Saya semangat maju di Pilpres 2014 karena ada kesempatan yang terbuka untuk semua masyarakat Indonesia," ujar Farhat seperti dikutip Liputan6, Rabu 23/01.

Sumpah Pocong
Jika terpilih, Farhat sesumbar tidak akan korupsi. "Saya akan sumpah pocong untuk bersumpah untuk tidak korupsi. Mungkin cara saya ini dianggap terlalu miring atau musrik. Tapi bagi saya tidak. Ini penting agar tidak berani berbohong dan korupsi. Efeknya, nanti mereka para pejabat berpikir kalau mau korupsi," tutur Farhat.

"Nanti polisi, hakim, semua juga akan disumpah pocong, biar mereka tdk korupsi. Tapi polisi dan KPK tetap bekerja dengan undang-undang. Orang Indonesia butuh kejujuran, saya terima saja kalau diledek. Karena visi saya untuk kebenaran, kesejahteraan dan keadilan," kata pengacara yang punya akun Twitter @farhatabbaslaw ini.(muslimdaily)

Siapa Harut & Marut?

 “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqoroh : 102)
KISAH dan  penyebutan nama Harut Marut dalam Al-Quran, hanya disebutkan satu kali, yaitu dalam surat al-Baqarah ayat 102. Bahkan, penyebutan kisahnya pun sangat pendek, tidak panjang juga tidak detail.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Dan perbedaan ini erat kaitan dengan penafsiran maksud dari kata ‘malakain’ (dua malaikat).

Pendapat pertama, Harut dan Marut adalah dua nama kabilah jin yang mengajarkan sihir. Dengan demikian kata Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘asy-syayâthîn’ (setan-setan). Pendapat ini adalah dinisbahkan oleh Ibnu Katsir kepada pendapatnya Ibnu Hazm, hanya saja Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan pendapat ini adalah pendapat yang sangat aneh dan asing.

Lalu jika Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘asy-syayâthîn’, lalu siapakah yang dimaksud dengan ‘malakain’ dalam ayat tersebut? Menurut pendapat ini, kata ‘malakain’ dimaksudkan adalah Jibril dan Mikail. Hal ini mengingat orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Allah telah menurunkan Jibril dan Mikail untuk mengajarkan sihir, lalu Allah menolak anggapan tersebut, dengan mengatakan: “Sulaiman tidak kufur (tidak mengajarkan sihir), juga demikian dengan Jibril dan Mikail. Akan tetapi yang  kufur itu adalah setan-setan, di mana merekalah yang mengajarkan sihir kepada manusia di daerah Babil, yaitu melalui Harut dan Marut”.

Demikian penggambaran Imam al-Qurthubi dalam al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’an-nya, ketika menggambarkan penafsiran pendapat pertama. Hanya saja, pendapat ini, sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir adalah pendapat yang sangat aneh dan  asing (aghrab jiddan).

Pendapat kedua mengatakan, Harut dan Marut adalah manusia jahat yang mengajarkan sihir  di daerah Babil, dan Babil adalah sebuah daerah di Irak atau di Kufah. Pendapat ini diutarakan oleh Imam Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya Jâmiul Bayân fi Ta’wîl Al-Quran, ketika menjelaskan beberapa pendapat seputar maksud Harut dan Marut. Namun demikian, di akhir pemaparan Imam at-Thabari melemahkan pendapat ini.

Jika yang dimaksudkan dengan Harut dan Marut adalah manusia biasa, lalu siapa yang dimaksud dengan ‘malakain’?

Sebagaimana pendapat pertama, pendapat ini mengatakan bahwa ‘malakain’ maksudnya adalah Jibril dan Mikail. Ini untuk menolak anggapan orang Yahudi saat itu yang mengatakan bahwa Nabi Sulaiman bin Daud bukan seorang Nabi akan tetapi seorang tukang sihir, yang mana sihirnya itu diajarkan melalui Jibril dan Mikail. Allah kemudian membantah anggapan demikian dengan mengatakan bahwa Jibril dan Mikail tidak mengajarkan sihir sedikitpun, sehingga dengan demikian Nabi Sulaiman terbebas dari tuduhan tersebut. Kelebihan yang dimiliki Nabi Sulaiman, bukanlah hasil dari sihir akan tetapi mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi-Nya.

Pendapat ketiga, mengatakan Harut dan Marut adalah orang shaleh dan sangat baik yang tinggal di Babil. Karena kesalehannya, orang-orang memuliakan dan menganggapnya seperti malaikat. Dengan demikian, kata ‘malakain’ dalam ayat di atas merupakan bentuk isti’arah atau majaz dari dua sosok manusia saleh yang bernama Harut dan Marut. Karenanya, kata Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘malakain’ hanya dalam pengertian majaz bukan pengertian sebenarnya sebagai malaikat.

Harut dan Marut, menurut pendapat ini, dapat mengetahui sihir dan bahkan keduanya yang meletakkan dasar-dasar ilmu sihir di negeri Babil, Irak. Keduanya orang baik dan tidak kufur dengan sihirnya itu, hanya saja orang-orang setelahnya yang menggunakan ilmu sihir tersebut untuk hal-hal tidak baik sehingga mereka menjadi kufur. Demikian pemaparan Thahir bin Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir-nya, ketika menjelaskan ayat 102 dari surat al-Baqarah.

Harut dan Marut, lanjut Ibnu Asyur, adalah dua nama suku Kaldan. Kata Harut merupakan nama Arab dari bahasa Kaldan, Hârûkâ, yang merupakan nama bulan sebagai symbol perempuan bagi suku Kandan. Sedangkan Marut merupakan nama Arab dari kata Mârûdâkh, yang merupakan nama bintang bagi suku Kaldan, sebagai simbol laki-laki.

Baik Hârûkâ maupun Mârûdâkh keduanya merupakan di antara bintang yang disucikan dan disembah oleh suku Kandan. Dan penyandaran kedua nama ini kepada nama bintang, adalah karena keyakinan mereka bahwa setiap orang saleh ketika sudah meninggal dunia, ia akan naik ke langit dan berubah dalam bentuk bintang atau benda langit lainnya. Dengan demikian, Harut dan Marut adalah dua orang saleh yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama bintang sembahan suku Kaldan. Demikian pemaparan Ibnu Asyur dalam tafsirnya.

Sebagian ulama membacanya bukan ‘malakain’, akan tetapi ‘malikain’ (dengan membaca kasrah huruf lam-nya
yang berarti dua raja). Di antara ulama yang membaca dengan ‘malikain’ ini, dinisbahkan oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, kepada pendapatnya ibnu Abbas, Ibn Abza, ad-Dhahhâk dan al-Hasan al-Bashri. Dan yang dimaksud dengan dua raja ini adalah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Hanya saja, bacaan ini adalah bacaan yang syadzdzah (ganjil), dan dilemahkan oleh Ibnul Araby.

Pendapat keempat, Harut dan Marut adalah malaikat yang diturunkan oleh Allah sebagai ujian dan cobaan bagi manusia saat itu. Keduanya mengajarkan sihir, dengan maksud agar orang-orang dapat membedakan mana sihir dan mana mukjizat. Hal ini penting mengingat sihir di daerah Babil saat itu sudah sangat membudaya dan membesar, sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan antara mukjizat dan sihir. Mereka menganggap para nabi yang diutus bukan sebagai nabi akan tetapi tukang sihir. Allah lalu menurunkan dua malaikat, Harut dan Marut sebagai ujian bagi manusia saat itu. Mereka yang beriman akan tetap kokoh dengan keimanannya, dan mereka yang tidak beriman akan teperdaya dengan sihir tersebut.

Pendapat ini mengatakan, bahwa kata Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘malakain’, yang berarti dua malaikat dalam pengertian sebenarnya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, pendapat ini merupakan pendapat Jumhur ulama salaf, termasuk juga pendapat sebagian besar mufassirin, baik yang dahulu maupun yang belakangan.

Lalu jika ditanyakan, kalau seandainya Harut dan Marut itu adalah malaikat, bagaimana mungkin dia mengajarkan sihir yang jelas-jelas sangat dilarang?

Imam at-Thabari menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan: “Sesungguhnya Allahlah yang telah menurunkan kebaikan dan kejahatan semuanya. Dan Allah juga menjelaskan akibat dari semua itu kepada hamba-hamba-Nya. Allah kemudian mewahyukan kepada para utusan-Nya untuk mengajarkan kepada makhluk-Nya mana yang halal dan mana yang haram bagi mereka. Hal ini seperti zina, mencuri dan seluruh perbuatan maksiat lainnya yang diperkenalkan kepada manusia serta melarang manusia melakukannya. Dan Sihir juga termasuk salah satu dari makna dimaksud, yang disampaikan dan dilarang untuk menggunakannya”.

Imam at-Thabari kemudian menukil pendapat yang mengatakan: “Mereka juga berpendapat: “Mengetahui ilmu sihir itu tidak berdosa, sebagaimana tidak berdosanya seseorang yang mengetahui cara membuat minuman keras, memahat patung. Letak dosa itu manakala ia mengamalkannya dan mempraktikkannya”. Demikian di antara pemaparan Imam at-Thabari mengokohkan pendapat keempat ini.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menguatkan pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa Harut dan Marut merupakan dua malaikat yang diturunkan menjelaskan bahaya sihir sebagai ujian dan fitnah bagi manusia. Dan bagi Allah, lanjut al-Qurthubi, sangat berhak untuk menguji hamba-Nya menurut kehendak-Nya, sebagaimana Dia telah menguji dengan sangat Thalut. Karena itu, kedua malaikat itu berkata: “kami adalah fitnah maksudnya ujian dari Allah, kami mengabarkan bahwa sihir itu adalah perbuatan kufur. Jika kamu mengikuti nasihat kami, niscaya akan selamat, dan jika kamu tidak mengikuti kami, niscaya kamu celaka dan binasa”.

Dalam kesempatan lain, Imam  al-Qurthubi mengatakan bahwa Harut dan Marut itu diturunkan untuk mengajarkan kepada manusia larangan melakukan sihir. Keduanya mengatakan: “Janganlah kalian melakukan ini, jangan melakukan itu”, dan seterusnya.

Syaikh Thanthawi, rahimahullah, Syaikhul Azhar sebelumnya, dalam tafsirnya at-Tafsîr al-Wasîth menuturkan: “Jumhur mufassirin berpendapat bahwa kedua malaikat itu adalah dalam pengertian sebenarnya malaikat. Keduanya diturunkan oleh Allah untuk mengajarkan sihir kepada manusia sebagai ujian dan cobaan. Hal ini untuk menolak anggapan tukang sihir saat itu yang mengatakan bahwa para nabi itu dusta, juga mereka memengaruhi dan mengajak orang-orang saat itu untuk menyembah selain Allah. Kemudian Allah mengutus dua malaikat yang bernama Harut dan Marut.

Hanya saja, keduanya tidak mengajarkan sihir kepada siapa pun kecuali keduanya menasihati dengan mengatakan  bahwa apa yang diajarkannya itu  adalah bentuk sihir yang tujuannya sebagai ujian, untuk memisahkan mana yang mengikuti kemaksiatan sehingga ia sesat dibuatnya, dan mana yang meninggalkan kemaksiatan sehingga ia berada dalam petunjuk dan cahaya dari Allah. Di samping itu juga untuk menampakkan perbedaan yang nyata antara mukjizat dengan sihir”.

Kemudian perlu disampaikan juga, riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kisah Harut dan Marut ini sangat banyak. Riwayat-riwayat dimaksud datang bukan dari Rasulullah saw, akan tetapi dari para tabi’in, seperti Mujahid, Hasan Bashri, Qatadah dan lainnya. Tidak ada riwayat yang sahih yang langsung menyambung kepada Rasulullah saw.

Ada satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya yang bersambung kepada Rasulullah saw, hanya saja riwayatnya lemah, karena di dalamnya ada rawi bernama Musa bin Jubair, yang oleh para ulama hadis seperti Imam al-Haitsami dalam Majmauz Zawâid dinilai sebagai rawi daif. Terlebih, menurut para ulama, riwayat-riwayat seputar kisah Harut dan Marut yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir seperti dalam Tafsir at-Thabari adalah berita-berita Israiliyyat yang tertolak.

Mengakhiri pembicaraan Harut Marut ini, ada perkataan Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 102 di atas. Ibnu Katsir mengatakan:  “Kisah Harut dan Marut banyak diriwayatkan kisahnya dari sekelompok tabi’in seperti Mujahid, as-Suddy, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Abul ‘Âliyyah, az-Zuhry, ar-Rabi’ bin Anas, Muqatil, Ibnu Hayyan dan yang lainnya. Demikian juga, kisahnya banyak diceritakan oleh para mufassir, baik yang terdahulu ataupun yang belakangan. Kesimpulannya, semua kisah secara teperincinya merupakan kisah-kisah Bani Israil, karena tidak ada satu pun hadis Marfu’ yang sahih yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah saw yang menceritakan akan hal itu. Sedangkan Al-Quran menceritakan kisahnya secara global, tanpa penjelasan yang panjang.  Karena itu, kami mengimani apa yang ada dalam Al-Quran menurut kehendak Allah, dan hanya Allah yang lebih mengetahui hakikat sebenarnya. [islampos]

SEDEKAH INDAH SEORANG DOKTER ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Di satu tempat di Jakarta ada rumah yang bisa dibilang cukup mewah. Rumah itu adalah kediaman keluarga dr. Juni Tjahjati. Selain sebagai tempat tinggal, rumah itu sehari-hari dipakai Juni sebagai tempat praktek. Banyak pasien berobat setiap hari ke sana yang kadang membuat tukang parkir harus ekstra keras mengatur kendaraan.

Jika kita berdiri tepat menghadap rumah itu dari seberang jalan tampaklah dua buah hiasan berbentuk pagar kecil bersusun di atap rumah. Di bagian tengah pagar besi yang tidak memagari apapun itu terpampang lambang cinta berbentuk hati dicat warna emas. Lambang itu seperti ingin berkata bahwa semua aktivitas dalam rumah dan tempat praktek itu didasari oleh cinta.


Tanpa ragu, dokter itu membantu tetangganya yang dioperasi di rumah sakit. Semua biaya ia tanggung. Hidupnya pun tampak berkah dan berlimpah rezeki.

Beberapa tahun lalu, seorang laki-laki bernama Mustofa datang ke rumah itu. Ia menggigil kedinginan. Ia baru pulang dari Bogor, memenuhi undangan kawannya untuk memancing. Sebuah kecelakaan kecil terjadi: kakinya tertusuk bambu.

Mustofa adalah tetangga Juni, sehari-hari berjualan es jus sambil menjadi tukang parkir di tempat praktek itu. Seorang dokter menanganinya dengan memeriksa dan memberi obat.

“Waktu itu dokter Juni sedang keluar negeri,” ujar Mustofa.

Pengobatan diberikan kepada Mustofa secara cuma-cuma. Ia dapat kembali pulang dengan tenang. Tapi seminggu kemudian ia kembali datang karena ia mulai merasakan sakit yang lebih parah.

Mustofa sulit menggerakkan mulut dan menelan makanan. Juni yang sudah pulang langsung memberi pertolongan. Bapak empat anak itu disuntik dua kali, diberi obat dan disuruh balik lagi beberapa hari kemudian. Menyadari kemungkinan Mustofa menderita tetanus, Juni melakukan operasi kecil, mengeluarkan potongan bambu kecil yang tertanam di kaki Mustofa.

Tapi beberapa hari kemudian, Mustofa semakin parah karena racun tetanus ternyata sudah menjalar ke tubuhnya menginfeksi syaraf dan ototnya hingga kaku dan tak bisa digerakkan.

Juni kemudian bertindak cepat dengan membawa Mustofa ke rumah sakit agar bisa dirawat dengan fasilitas lebih memadai. Ia tak bisa mengiringi tetangganya itu tapi mengontak teman-temannya yang ada di rumah sakit agar Mustofa ditangani dengan baik.

“Jangan ditinggal sebelum Pak Mus dapat ruang inap dan ditangani dokter,” ujar Juni kepada supirnya yang mengantar.

Mobil pun melaju ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo) Jakarta. Di RSCM ada suami Juni, dr. Ismail, seorang ahli Ortopedi, yang sehari-hari berpraktek dan mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Tapi, ternyata., RSCM tak ada ruangan kosong. Mustofa lalu dilarikan ke RS Persahabatan. Kembali tak ada ruang kosong. Ismail lalu mengontak koleganya di RS Fatmawati. Ada ruang kosong di rumah sakit itu. Mustofa langsung dibawa ke sana.

“Sampai di sana, saya langsung disambut dokter dengan hormat. Sepertinya dokter itu teman baik dr. Juni atau suaminya, dr. Ismail,” ujar Mustofa mengenang.

Sampai di Fatmawati Mustofa tak sadarkan diri. Ia dirawat berhari-hari di sana sampai kesadarannya pulih. Dalam sakitnya itu, Mustofa ditunggui oleh istrinya.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, datanglah lembar tagihan berobat. Mustofa dan istrinya terkaget-kaget, karena di situ tertera angka 13 juta rupiah. Tentu saja ia tak memiliki uang sebesar itu apalagi ia belum pulih benar. Perlu beberapa hari lagi untuk menginap agar ia bisa pulih sampai sediakala.

Tapi, rupanya, kecemasan itu hanya terjadi sesaat saja, sebab rupanya dr. Juni sudah menangung biaya berobat Mustofa. Tak terbilang rasa terima kasih Mustofa dan istrinya. Apalagi Juni juga turut menjenguk Mustofa dan bahkan memberi istri Mustofa uang untuk pegangan selama menunggui suaminya dirawat.

“Saya tak punya uang sepeser pun. Semua biaya ditanggung dokter Juni.
Saya tak tahu berapa jumlah pastinya. Tapi kira-kira 20 juta rupiah,” ujar Mustofa mengenang sambil terharu.

Mustofa sampai tak habis pikir kenapa ada orang sebaik itu. Ia hanya tetangga dan bukan saudara. Bisa dikatakan ia juga hidup dari dr. Juni karena ia berjualan es di depan Praktek dr.Juni, selain memarkir kendaraan. Ia tak dimintai uang sedikit pun berjualan di depan tempat praktek itu seperti yang lazim terjadi. Bahkan ia juga tak dimintai uang listrik, padahal sehari-hari ia memakai listrik untuk blender es jus.

Saat anak nomor tiganya menderita kecelakaan, kembali Juni dengan ringan membantu Mustofa. Waktu itu, anak Mustofa tertabrak kendaraan bermotor dan kakinya patah. Kaki anak berusia 6 tahun itu diberi pen yang diukur sendiri oleh suami dr. Juni. Kembali Mustofa tak membayar sepeserpun biaya pengobatan itu karena semua ditanggung dr. Juni.

Berkah Sedekah ...

Sekalipun menolak untuk membeberkan lebih lanjut, sedekah memang merupakan amal yang masyhur dilakukan Juni. Ini diakui pula oleh para warga di sekitar rumahnya. Tangannya begitu ringan menolong. Kadang ada kaum dhuafa yang berobat dengan membayar semampunya atau gratis sama-sekali.

Jika melihat kehidupan Juni yang dilimpahi rezeki benarlah ungkapan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 256 yang menyebut bahwa

... “Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” ...

Tempat prakteknya tampak ramai, membuat rezekinya seakan tidak pernah putus. Pasien yang berobat di sana juga sangat senang karena diobati dengan penuh perhatian.

Selain itu, Juni juga memiliki beberapa kendaraan dan perusahaan yang ia kelola di bidang kesehatan, makanan, laboratorium, penyewaan gedung, perawatan kecantikan, dan lain sebagainya.

Dahulu, sebelum meraih semuanya, Juni malah hidup sederhana; berbisnis salon dan membuka toko sepatu karena ia merasa tak patut mencari uang berlebih dari pengabdiannya sebagai dokter.

Satu hal yang patut dicontoh adalah Juni tampak enggan untuk menceritakan itu semua. Baginya itu hal biasa saja. “Kebetulan saya bisa membantu, ya saya bantu,” ujarnya.

Saat masih menjadi dokter puskesmas di daearah Jawa Timur tahun 90-an, Juni juga sudah sering bersedekah. Ia bahkan pernah mengobati pasien yang memerlukan transfusi darah dengan mengambil darahnya sendiri.

Lagi-lagi jika ada pasien yang tak mampu dan perlu dirujuk ke rumah sakit, ia bersedia mengantarkan dengan menggunakan biaya akomodasi dari dirinya sendiri.

Menolong sepertinya sudah menjadi etika utama dokter ini. Semua hal dikebelakangkan dan keselamatan pasienlah yang diutamakan.

“Ada perasaan lega dan senang jika pasien yang kita tolong bisa selamat, dan bisa berbagi itu merupakan satu kenikmatan sendiri,” ujar Juni.

Tak hanya itu, Juni juga kerap mengalamatkan sedekah pada pembangunan masjid. Beberapa masjid sudah ia sumbang. Ada di antaranya yang dibangun bagi kaum pinggiran di wilayah Tebet, Jakarta Selatan.

Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang didapat. Tapi itu tak berlaku jika melihat kehidupan dr. Juni. Rezeki seperti mengalir deras padanya, dari berbagai jalan, karena setiap rezeki yang ia dapatkan juga ia sedekahkan kemana-mana.

... “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” ...

Demikian Allah berkata dalam firman-Nya (Q.s. al-An'am: 160) ..

Jadi, sebetulnya, setiap harta yang kita sedekahkan justru akan kembali dengan berlipat ganda. Satu dikurang satu sama dengan sepuluh, bukan nol. Itulah rumus sedekah. Dengan memberi, seseorang akan mendapatkan lebih banyak, tidak berkurang atau habis.

Subhanallah ...

Bunga Yang Istimewa,Hanya Untuk Yang Istimewa

Bunga adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri tercintanya, Fatimah Az Zahra. Az Zahra sendiri berarti “bunga”. Tidaklah mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu terlihat dari ungkapan Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih, dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula”.

“Bunga” Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari ayahanda Rasul yang baik, lemah lembut dan terpuji menjadikannya seorang gadis yang juga penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan plus akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka tidaklah aneh, bunga yang dinisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di kalangan para sahabat Rasulullah.


Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pernah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali bin Abi Thalib untuk meminang Fatimah. “Aku mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau, yaitu
Fatimah. Aku berkata: Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan diri untuk meminangnya”. Akhirnya, Rasulullah pun menerima pinangan Ali meski hanya mempersembahkan baju besi alkhuthaimah (yang juga merupakan pemberian Rasul).

Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung yang mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia Muhammad Rasul Allah, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan
segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul.

Lalu kenapa ayahanda sang bunga itu menolaknya?

Pertanyaan selanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah? Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini. Ali adalah lelaki istimewa, masuk dalam assabiquunal awwaluun (golongan pertama yang masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah menyangsikan lelaki satu ini. Perang badar yang diikuti oleh seluruh manusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kaum kafir menantang untuk berduel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masih kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu.

Tidak sampai disitu, yang membuat Rasulullah tak bisa melupakannya adalah jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal resikonya adalah mati terpenggal oleh balatentara kafir yang telah mengepungnya.

Tentu masih banyak dan tidak akan cukup satu halaman untuk mencatat kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk lelaki istimewa. Seperti halnya, “bunga” Fatimah yang hanya Ali bin Abi Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah menjadikan diri ini istimewa

Barakallahu fiikum wa jazakumullah khairan khatsir,,

''10 CONTOH PENTING BAGAIMANA RASULULLAH MELAYANI ISTRINYA''


1. Kalau ada pakaian yang koyak,Rasululla h menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.Belia u juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

2. Setiap kali pulang ke rumah,bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan,sambil tersenyum baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina ‘Aisyah menceritakan‘Ka lau Nabi berada di rumah,beliau selalu membantu urusan rumahtangga.


3. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid,
dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.’

4. Pernah baginda pulang pada waktu pagi.Tentulah baginda teramat lapar waktu itu..Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan.Yang mentah pun tidak ada kerana Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar.Maka Nabi bertanya, ‘Belum ada sarapan ya Humairah?’ (Humairah adalah panggilan
mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang bererti ‘Wahai yang kemerah-merahan ’) Aisyah menjawab dengan agak serba salah,‘Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.’Ras ulullah lantas berkata,‘Jika begitu aku puasa saja hari ini.’tanpa sedikit tergambar rasa kesal di raut wajah baginda.

5. Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami sedang memukul isterinya.Rasul ullah menegur,‘Mengap a engkau memukul isterimu?’ Lantas dijawab dengan agak gementar, ‘Isteriku sangat keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap begitu juga,jadi aku pukul lah dia.’‘Aku tidak menanyakan alasanmu,’ sahut Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam,.‘Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu kepada anak-anakmu?’

6. Pernah baginda bersabda,’sebai k-baik lelaki adalah yang paling baik, kasih dan lemah lembut terhadap isterinya.’ Prihatin,sabar dan rendah hati baginda dalam menjadi ketua keluarga langsung tidak sedikitpun menurunkan kedudukannya sebagai pemimpin umat..

7. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan rasa kehambaan yang sudah melekat dalam diri Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam menolak sama sekali rasa kesombongan.

8. Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan sebab untuknya merasa lebih dari yang lain,ketika di depan ramai maupun dalam kesendiriannya.

9. Pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,terus-mene rus beribadah hinggakan pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak .

10. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah,‘Ya Rasulullah,
bukankah engaku telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?’ Jawab baginda dengan lunak,‘Ya ‘Aisyah,apakah aku tak boleh menjadi hamba-Nya yang bersyukur..

Senin, 04 Februari 2013

.... IBU, .. MADRASAH CINTA-KU ..!! ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Ada sebutir kristal bening menetes luruh disudut mata ini ketika note ini tertulis. Ada satu keajaiban yg tak sanggup saya ungkap disini. Sebuah gelegak hati yg senantiasa bergumam hanya karena satu nama : IBU.

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan.

Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; “positif”.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya.

Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.

Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.

Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak.

Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap “Ma…” segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar telepon.

Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.

“Demi anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue.

Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.

Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, … nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya.


Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.

Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia.

Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari.

Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau.

Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta.

Serta merta kalimat, “sudah makan belum?” tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata?

Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin.

Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir.

Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian”. Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.

Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu?

Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibu lah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.

Maka tidak heranlah jika Rasulullah bersabda:" Surga berada di telapak kaki ibumu".

Wallahu’alam bishshawab, ..

MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH SWT

Mengapa kadang-kadang kita menangis, dan siapa yang menetapkan fitrah (insting) ini kepada kita, yakni fitrah menangis? Seorang bayi sejak pertama terlahir ke dunia kita melihatnya menangis, dan seseorang yang sangat senang kita juga mendapatinya menangis. Maka menangis adalah insting Allah ciptakan (tanamkan) pada diri manusia, dan kebanyakan orang-orang ateis meyakini bahwa menangis tidak ada faidahnya (manfaatnya). Akan tetapi datang beberapa penelitian untuk membuktikan kebalikan dari keyakina orang-orang atis tersebut. Dan juga kita menemukan bahwasanya al-Quran menyebutkan bahwa menangis adalah sifat yang baik, namun dengan syarat bahwasanya menangis tersebut dikarenakan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Dan kami memperhatikan pada hari-hari ini bahwa beberapa peneliti kejiwaan melontarkan ide "Pengobatan Dengan Menangis"!!

Sebuah studi ilmiah yang dilakukan oleh para peneliti AS dan Belanda memberikan faidah bahwa kebanyakan orang merasakan bertambah baiknya suasana hati setelah menangis, dan pada saat yang sama hanya satu orang dari sepuluh yang keadaanya memburuk setelah itu (setelah menangis).

Dan para ahli kejiwaan dari University of South Florida, AS dan Universitas Tilburg, Belanda menemukan bahwa orang-orang yang menangis dan mengeluarkan air matanya merasakan bertambah baiknya suasana hati mereka.

Sebaliknya, tercatat bahwa sekitar sepertiga dari 3000 orang yang mengikuti studi penelitian tersebut, suasana hati mereka tidak membaik setelah menangis. Studi ini, yang hasilnya dipublikasikan dalam American Journal of Psychology mengaitkan antara manfaat menangis, dengan tempat dan waktu menangis tersebut. Studi ini melihat bahwa menangis memberikan efek menenangkan, seperti pernapasan yang menjadi lambat, sehingga hal tersebut memberikan kontribusi untuk mengurangi jumlah denyut jantung. Para peneliti memperkirakan bahwa hal inilah sebab mengapa manusia mengingat sisi terang dari menangis dan melewatkan perasaan tegang.

Para peneliti melakukan penelitian (pengkajian) tangisan di laboratorium, dan ternyata mereka menemukan bahwa kebanyakan hasilnya adalah perasaan yang buruk. Maka mereka pun menguatkan bahwa sebabnya adalah keadaan tegang, imajinasi dan pemantauan. Dan itulah hal-hal yang menimbulkan perasaan-perasaan negatif yang menghambat manfaat-manfaat positif yang berkaitan dengan menangis.

Berita ilmiah ini menguatkan apa yang ada dalam penelitian sebelumnya, tentang manfaat-manfaat menangis yang dirasakan oleh para peneliti di bidang psikologi. Namun para peneliti tersebut tidak mengetahui cara menangis yang benar dan efektif!

Menangis terkadang dapat menjadi obat untuk banyak penyakit, akan tetapi dengan syarat bahwa tangisan tersebut disebabkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan itulah yang dikabarkan Al-Quran kepada kami, dengan firman-Nya ketika menceritakan tentang orang-orang beriman yang khusyu' yang hati mereka merasakan pengaruh dari firman
Allah, apa reaksi mereka? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang mereka:

(وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا) [الإسراء: 109].

"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'." (QS. Al-Israa': 109)

Lihatlah bagaimana penjelasan Ilahi ini menghubungkan/mengaitkan antara menangis dengan khusyu'? Maka keduanya adalah cara yang bagus untuk mengobati penyakit-penyakit mental.

Menangis disebabkan rasa takut kepada Allah menambah kekhusyu'an dan ketakutan kepada Allah pada diri seorang yang beriman, dan membuatnya lupa terhadap kesedihan, dan kekhawatirannya, mengapa? Karena orang yang terpengaruhi oleh firman Allah dan membayangkan kengerian-kengerian hari Kiamat, serta mengingat-ingat kebesaran Sang Pencipta, niscaya akan berkurang masalah-masalah dan kesedihan-kesedihan di hadapannya, seberapapun ukuran atau jenisnya. ٍٍٍٍSehingga ia lupa akan masalahnya. Dan ini adalah langkah pertama dalam proses penyembuhpan masalah apapun, yaitu dengan melihat masalah ini sebagai sesuatu yang sepele dan bisa dipecahkan, sehingga dengan demikian ia akan mudah diselesaikan. Dan ini ditegaskan oleh psikolog dan program neuro-linguistic tentang pemecahan masalah-masalah dan kesulitan.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tengan "menangis" di beberapa tempat di dalam al-Qur'an. Dan Dia menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan sebagai indikasi kejujuran seorang mukmin dalam takutnya kepada Sang Pencipta, Yang Mahakuasa. Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ * وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ * وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ * فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا) [النجم: 59- 62].

" Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangi. Sedang kamu melengahkan(nya) Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (QS. An-Najm: 59-62)

Maka dalam nash al-Quran ini, Dia memerintahkan kita untuk menangis disebabkan takut kepada Allah, dan agar kita menjauhi kesia-siaan serta menjauh banyak tertawa. Dan hal itu tidak menghalangi kita dari tersenyum yang ia juga termasuk obat (untuk mengobati kesedihan dan masalah, ed).

Dan sebagai penutup, wahai saudaraku tercinta:

" Sesungguhnya menangis, ,khusyu', dan do'a adalah resep yang bagus untuk mengobati ketegangan jiwa. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menjadikan kita termasuk di antara golongan yang Allah berfirman tentang mereka:

(إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ) [الأنبياء: 90]

" …Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (QS. Al-Anbiyaa': 90)

Dan betapa butuhnya kita di zaman ini terhadap do'a, kekhusyu'an, dan tangisan yang disebabkan karena rasa takut kepada Allah. Semoga Allah melepaskan kesedihan-kesedihan kita dan memberikan kesabaran kepada kita, karena tidak ada pemberiaan dari Allah yang lebih luas dibandingkan kesabaran, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

Sumber: العلاج بالبكاء من خشية الله

Sakitnya Hidup Dalam Kebohongan

Bohong !! bila anda mendengar kata itu pasti yang terbesik dihati dan pikiran anda adalah rasa marah, jengkel atau rasa geram yang tak terkira, karena anda merasa ditipu.Dan pastinya rasa percaya yang ada selama ini secara otomatis akan hilang baik secara perlahan maupun cepat. Bahkan tidak hanya itu seandainya bisa, anda pasti berharap menghapus semua tentangnya dari hidup anda, seolah anda menganggap tidak pernah mengenal orang yang telah membohongi anda.
Namun pernahkah anda membayangkan dan merasakan sakitnya menjadi seorang pembohong.Jika kita lihat dan mengkaji lebih dalam,jauh ke relung hati yang paling dalam. Coba anda pikirkan apa yang dirasakan oleh hati, mereka(pembohon g) hatinya juga bersedih ,dikarenakan hati kecilnya(pemboh ong) juga menangis

Hidupnya(pembohong) selalu dibayangi oleh ketakutan yang selalu menghantui setiap ia membuka mata. Tahukah anda??” meraka(pembohong) selalu bersedih,dikare nakan dari pagi awal dia membuka mata, ia selalu dihantui pertanyaan dari hati kecilnya.Keboho ngan apa
yang akan kau perbuat seharian ini?.

Bukan itu saja rasa ketakutan akibat pebuatannya di waktu sebelumnya, Selalu menghantui, hatinya pun merasakan takut yang teramat luar biasa.sampai kapan mampu menyimpan itu semua.Setiap bertemu esok hari,kepalanya tunduk dan dia selalu ketakutan mungkin kah mereka tahu. Dan saat berkomunikasi ia(pembohong) selalu berusaha menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi seolah nyata.Bahkan sering kata-kata yang terucap dari mulutnya membuat kagum yang mendengar bahkan juga sebaliknya membuat orang tak percaya dan penasaran.

Hidupnya selalu terikat dan tidak merasa bebas, karena selalu berusaha menyembunyikan sesuatu serapi mungkin agar tidak diketahui orang lain.Hidup demikian tentu sangat menyakitkan.Ia harus mengerahkan seluruh kemampuan otaknya agar kata-kata yang terucap olehnya kemarin menjadi suatu kesatuan yang utuh tanpa cacat sedikitpun.

Sekarang mari kita berpikir dan merenungkan. Apakah anda mau menjalani hidup demikian??? selalu berusaha menutup-nutupi sesuatu. Betapa indahnya hidup bila tidak ada yang ditutup-tutupi, biarkan semua seperti seharusnya. Karena hidup di dunia ini hanya sekali, mari kita pergunakan untuk melakukan hal-hal yang positif. Jalani hidup ini seperti seharusnya, tidak perlu menambahi dengan yang negatif, terlebih mengurangi sesuatu yang seharusnya tak dikurangi.

Marilah kita senantiasa jujur dalam segala hal.

Bani Israil, Bangsa Nomaden yang Hidup dari Konspirasi ke Konspirasi


 Bani Israil, Bangsa Nomaden yang Hidup dari Konspirasi ke Konspirasi

Bani Israil merupakan kaum pembunuh para nabi, bahkan dalam suatu kisah, kaum Yahudi ini dikatakan telah membunuh 300 nabi Allah yang berasal dari kaumnya sendiri. Mereka bunuh Nabi Zakaria as  dengan dibelah dari atas kepala dan seluruh badannya hingga menjadi dua. Mereka juga memenggal kepala Nabi Yahya as, serta mencoba membunuh Nabi Isa as.

Bani Israil juga berniat mencelakai Nabi Musa as. Mereka berupaya membunuh Nabi Yusuf as. yang diceburkan ke dalam sumur. Seterusnya mereka juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap Rasulullah Saw. Tidak salah jika dikatakan bahwa kaum Yahudi adalah kaum pembunuh para nabi.
Tabiat Yahudi yang selalu cenderung memusuhi jalan ketauhidan, memerangi para Nabi Allah, menjadikan kaum ini sahabat bagi iblis. Sejak membangkang perintah Allah SWT agar semua mahluk bersujud kepada Adam as, iblis kemudian menggoda Hawa agar membujuk Adam supaya mau memakan buah khuldi yang dilarang Allah SWT. Iblis diberi hukuman agar meningalkan surga dan berkelana di bumi hingga hari akhir.

Iblis pun meminta izin agar selama hayat manusia, iblis diperbolehkan untuk menyesatkan umat manusia keturunan Adam dari jalan ketauhidan hingga akhir zaman. Iblis memperoleh izin untuk itu. Sejak itulah, terjadi pertentangan di bumi ini antara pasukan Allah (al-haq) melawan pasukannya iblis (al-bathil).

Bani Israil yang selalu saja memusuhi para Nabi Allah tentunya masuk ke dalam barisan pasukan iblis. Kaum ini sejak awal telah mendurhakai Musa as dan lebih memilih Samiri —tukang sihir Kabalis—sebagai pemimpinnya. Kecenderungan Bani Israil kepada ilmu sihir dan segala hal yang bernuansa kegelapan yang sesungguhnya berasal dari ajaran iblis yang diwarisi kelompok-kelompok purba penyembah api dan ular (Brotherhood of the Snake), menjadikan Bani Israil sebagai bagian dari kelompok tersebut.

Taurat Musa mereka rusak dan mereka buang. Mereka kemudian menggantinya dengan kitab Talmud, sebuah kitab hitam yang banyak melecehkan para Nabi dan Allah SWT. Mereka meyakini Talmud lebih suci dan lebih utama ketimbang Taurat Musa.

Ideologi Talmud inilah yang di kemudian hari melahirkan gerakan Zionisme. Anda bisa melihat faktanya saat berlangsung perang antara Zionis-Israel melawan Hizbullah 2006 lalu. Beredar foto-foto di berbagai media dunia yang memperlihatkan betapa para tentara Zionis selalu mendaras Talmud saat melakukan serangan atau pemboman musuh-musuhnya.

Setiap melakukan perang, kaum Yahudi Talmudian ini selalu saja membawa Talmud dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa peperangan yang tengah mereka lakukan adalah peperangan suci yang meninggikan ajaran Lucifer, Sang Iblis. Sosok yang oleh kaum Yahudi Talmudian dianggap sebagai “Cahaya di atas Cahaya” dan untuk menghancurkan musuh-musuh iblis itu
sendiri.

Kejahatan Terorganisir

Kaum Yahudi Talmudian merupakan kaum yang berada di dalam barisan iblis, di dalam kebathilan. Ini sudah jelas dan tak terbantahkan. Hanya saja, kaum Yahudi memiliki sejumlah kelebihan dibanding kaum lainnya. Banyak kalangan menganggap kaum Yahudi adalah ras manusia super yang diberi kelebihan genetis berupa otak yang lebih encer ketimbang manusia lainnya.

Hal ini sesungguhnya tidak berdasar sama sekali. Yang terjadi sesungguhnya bukanlah keistimewaan genetis, namun keistimewaan berpikir kritis dan tradisi yang mereka pelihara sepanjang sejarah. Mereka adalah bangsa yang memang ditakdirkan untuk mengembara dari satu daerah ke daerah lainnya.

Ibrani, sebutan lain bagi kaum Yahudi, berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti "selalu berpindah tempat” atau secara harfiah berarti “kaum yang menyeberang." Ini dikemukakan Dr Wilson yang menyatakan bahwa istilah ‘Ibrani’ lebih tepat dinisbatkan kepada asal-muasal bangsa Yahudi itu sendiri.

Bangsa Israel pada dasarnya adalah bangsa nomaden yang hidup di padang pasir dan tidak menetap di suatu tempat. Mereka selalu berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan membawa serta ternak, onta, dan binatang-binatang peliharaannya, guna mencari tempat yang cukup banyak air dan rumput.

Sebab itu, istilah ibri sesungguhnya lebih tepat berasal dari bahasa Arab yang berbunyi ‘a-ba-ra’ yang memiliki pengertian melakukan perjalanan dengan menyeberang lembah atau sungai"  demikian Dr. Wilson (Tarikh al-Lughat al-Samiyah). “Kalimat ibri itu sendiri sama artinya dengan istilah ‘badawi’ (badui) dalam bahasa Arab,” terangnya.

Sejarawan Charles Kent dalam History of The Hebrew People mengatakan jika kondisi internal bangsa Ibrani tersebut menyebabkan mereka secara turun-temurun merasakan adanya rasa keterasingan lalu menjadikan mereka sebagai bangsa yang tertutup, dan selalu mencurigai orang-orang di luar mereka sepanjang sejarah, serta menjadikan bangsa-bangsa lain di sekitarnya sebagai musuh.

Ini menyebabkan mereka  tidak mengikatkan loyalitasnya kepada tanah atau negeri yang menyatukan mereka dengan bangsa-bangsa lain. Loyalitas mereka hanya ditujukan kepada kelompoknya saja, maka jadilah kelompok tersebut, tanah air dan agama mereka yang selalu disucikan. Sebab itulah, mereka sangat kuat memegang sejarah kaumnya dan selalu belajar dari sejarahnya.

Hal ini tidak dimiliki oleh kaum lainnya, termasuk umat Islam yang secara ironis, sekarang ini mengalami kekalahan peradaban di pentas dunia. Dengan sangat rapi, terorganisir, dan ulet, kaum Yahudi menguasai simpul-simpul kekuatan duniawi hingga sekarang. Ini dilakukan mereka dari generasi ke generasi sepanjang abad dan millennium.

Dari konspirasi ke konspirasi lainnya, dari peperangan ke peperangan lainnya. Inilah kelebihan mereka, yang berpegang pada ajaran Iblis namun bisa mengorganisasikan diri dengan sangat baik sehingga dewasa ini mereka bisa mencengkeram dunia dengan kuku-kukunya yang menjangkau semua negeri. Bagaimana dengan kita? Wallahu a’lam bisshawab. (sabili)

HIKMAH LARANGAN MELAKUKAN ABORSI



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ (5)

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan…"(QS. Al-Hajj: 5)


وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ...(33)

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar…"(QS. Al-Israa': 33)

Ayat-ayat di atas menegaskan larangan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali jiwa-jiwa yang dibolehkankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk dibunuh sebagaimana telah dijelaskan oleh para Ulama berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur'an dan sunnah seperti pembunuh (qishah), orang muhsan yang berzina dan lain-lain.

Diantara bentuk pembunuhan yang disebutkan oleh para ulama adalah aborsi tanpa alasan yang dibenarkan oleh Syar'iat Islam, dan aborsi termasuk pembunuhan terhadap jiwa yang tidak berdosa, karena janin yang digugurkan belum memiliki dosa yang karenanya dia harus dibunuh. Pada kesempatan kali ini marilah kita simak bersama hikmah dibalik larangan aborsi tersbut.

Ilmu pengetahuan modern menegaskan bahwa aborsi adalah menggugurkan dan membunuh apa yang telah tumbuh di dalam rahim. Yang demikian ini merupakan bentuk pembangkangan/perlawanan terhadap kehendak Allah dalam proses penciptaan makhluk. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meniupkan ruh dalam janin, maka janin itu menjadi jiwa. Karena itu, menggugurkannya sama halnya dengan membunuh jiwa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan hak (alasan yang dibolehkan) atau sesuai dengan keputusan yang ditetapkan secara medis dan disahkan oleh para dokter muslim
yang terpercaya, seperti kehamilan yang membahayakan seorang ibu.

Dr. Gofat, guru besar bidang kelahiran dan penyakit wanita Universitas Liverpool, Inggris berkomentar:"Hendaknya permintaan aborsi yang disebabkan oleh desakan-desakan ekonomi diabaikan saja (tidak usah dilayani), dengan pertimbagan-pertimbangan sebagai berikut. Pertama, secara medis mengorbankan jiwa seorang ibu dab janinnya hanya karena desakan ekonomi atau kehirmatan keluarga tidak dapat diterima (tidak dibenarkan). Kedua, memperbolehkan aborsi dapat merusak etika profesi (melanggar kode etik) dokter dan perawat di mana prioritas yang ditangani adalah berkaitan dengan kesehatan fisik dan kejiwaan seorang ibu. ketiga, aborsi berbeda dengan operasi lainnya, di mana seorang ibu tidka mengetahui sejauh mana bahaya yang ditimbulkan."

Talah terbukti secara ilmuah bahwa aborsi akan dapat menimbulkan berbagai risiko.

Pertama:

Secara psikologi operasi ini akan menimbulkan rasa penyesalan yang berkepanjangan pada diri seorang ibu sesuai dengan fitrahnya. Hal ini dialam ioleh para ibu sekitar 25% samapi 5% yang disebabkan selain masalah medis.

Kedua:

Operasi ini akan berdampak pada hal-hal berikut:

a. Pendarahan dan shock yang dapat mengakibatkan kematian. Kasus ini terjadi berkisar antara tiga sampai delapan di setiap sepluluh ribu kasus. Bahkan, persentase ini mencapai tiga kematian dari setiap seribu kasus. Bila operasi ini dilakukan dengan pembedahan melalui perut, risikonya sepuluh kali lebih besar dari kasus pertama.

b. 15% dari kasus aborsi mengakibatkan timbulnya penyakit lain.

c. Rahim terkoyak sehingga secara otomatis akan terjadi keguguran pada kehamilan berikutnya.

d. Rahim pecah, tidak kurang dari 0,5% kasus, sehingga dapat membahayakan usus dan isi perut lainnya.

e. Rasa nyeri pada rahim, dua saluran, pembuahan dan lubangnya yang mengakibatkan kemandulan permanen.

Ketiga:

Kerusakan sosial yang meliputi kerusakan moral, kebebasan seksual, tersebarnya penyakit dalam, dan permintaan aborsi yang meningkat. Hasil sebuah survey menyebutkan bahwa 50% dari mereka yang melakukan aborsi kembali melakukan operasi lagi. (Dr. Ali Syahwan, al-IJhaadh Baina ath-Thibbi wa asy-Syar')

Bahaya dan risiko aborsi ini telah diketahui oleh semua dokter yang menangani kelahiran dan penyakit-penyakit dalam wanita.

Dengan demikian, kita dapat memahami hikmah larangan aborsi sebagaimana diungkap oleh ilmu pengetahuan mengenai risiko dan bahaya yang ditimbulkan secara psikologis dan sosial sebagaimana yangtelah kami sebutkan.

Sumber:الإعجاز العلمي في الإسلام والقرآن الكريم

Minggu, 03 Februari 2013

"PACARMU ITU BELUM TENTU JADI JODOHMU"


 


Seorang PACAR itu kebanyakan hanya hadir sebagai penghias hidup seseorang.
Dia hanya singgah sebentar yang terkadang menyisakan kepahitan dan penyesalan yang berkepanjangan.

Sedangkan JODOH adalah teman hidup yang telah digariskan Allah untuk menjadi pasangan pendamping hidup kita sepanjang hayat hingga kematian yang memisahkan.

style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;">Seseorang yang engkau anggap pacarmu belum tentu menjadi jodohmu!
Jadi jangan terlalu berharap banyak padanya hingga engkau rela menyerahkan segalanya demi apa yang engkau sebut cinta.



Ribuan korban selalu berjatuhan. Dan terus berjatuhan setiap harinya.
Tapi anehnya, terlalu sedikit dari kita yang bisa mengambil hikmah dari kejadian-kejadi an yang terjadi di sekitar kita.

Tanya kenapa?

Karena lemahnya iman! Itulah jawaban yang paling pantas!
Keimanan yang seharusnya menjadi tameng malah ditukar dengan nafsu yang selalu menggerogoti pikiran kita.
Masihkah kita mengagungkan hubungan yang nyata-nyata dilarang Agama?

Ingatlah..
Hanya pasangan halalmu yang paling berhak untuk memilikimu. Lahir batin. Luar dalam. Bukan pacarmu yang setiap waktu bisa saja pergi meninggalkanmu.

Renungkanlah sebelum terlambat dan berakhir dengan sebuah penyesalan.

Rahasia Sholat Dhuha Yang Harus Kita Ketahui



Allah Ta'ala dalam beberapa ayat bersumpah dengan waktu Dhuha. Dalam pembukaan surat As-Syams, Allah berfirman, "Demi matahari dan demi waktu Dhuha." Bahkan, ada surat khusus di Alquran dengan nama Addhuha.

Pada pembukaannya, Allah berfirman, "Demi waktu Dhuha." Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah Ta'ala setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu Dhuha, berarti waktu Dhuha adalah waktu yang sangat penting. Benar, waktu Dhuha adalah waktu yang sangat penting. Di antara doa Rasulullah SAW: Allahumma baarik ummatii fii bukuurihaa. Artinya, "Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku di waktu pagi."


Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu Subuh dan Dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan mendapatkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang terlena dalam mimpi-mimpi dan tidak sempat shalat Subuh pada waktunya, ia tidak kebagian keberkahan itu.

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadits. Rasulullah SAW bersabda, ''Bagi tiap-tiap
ruas anggota tubuh kalian hendaklah dikeluarkan sedekah baginya setiap pagi. Satu kali membaca tasbih (subhanallah) adalah sedekah, satu kali membaca tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, satu kali membaca takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan, semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha.'' (HR Muslim)

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat. Dalam riwayat Ummu Hani', "Kadang Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha sampai delapan rakaat." (HR Muslim). Imam Attirmidzi dan Imam Atthabrani meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa bila seseorang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat shalatnya sampai tiba waktu Dhuha, kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha, ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah diterima. Para ulama hadis merekomendasika n hadis ini kedudukannya hasan.

Jelaslah bahwa shalat Dhuha sangat penting bagi orang beriman. Penting bukan karena--seperti yang banyak dipersepsikan-- shalat Dhuha ada hubungannya dengan mencari rezeki, melainkan ia penting karena sumpah Allah SWT dalam Al-Qur'an. Maka, sungguh bahagia orang-orang beriman yang memulai waktu paginya dengan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan shalat Dhuha.

Kamis, 31 Januari 2013

7 Kelebihan Syetan Atas Manusia



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Setan merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan, yang berasal dari api. Pasukan dan keturunan Iblis ini, mempunyai misi untuk selalu merayu dan menghasut para cucu Adam, agar menjadi pengikutnya di neraka kelak.

Di dalam kehidupannya, para setan ini memiliki kelebihan-kelebihan dibanding manusia sebagai musuh utama mereka. Berikut adalah kelebihan para setan :

1. Pantang Menyerah ...
Setan tidak akan pernah menyerah, selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia, banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2. Selalu Berusaha ...

Setan akan mencari cara apapun untuk menggoda manusia, agar tujuannya tercapai, selalu kreatif, dan penuh dengan ide mutakhir. Sedangkan manusia, ingin enaknya saja, banyak yang malas.

3. Konsisten ...

Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada
pekerjaannya, tidak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia, banyak yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih mengaggur.

4. Solider ...

Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bunuh dan menyakiti.

5. Jenius ...

Setan paling pintar mencari cara agar manusia tergoda dan terhasut olehnya. Sedangkan manusia, banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang jadi peniru dan plagiat.

6. Tanpa Pamrih ...

Setan itu bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, apapun harus dibayar.

7. Suka Berteman ...

Setan adalah makhluk yang selalu ingin berteman, terutama dengan manusia. Agar banyak temannya di neraka kelak. Sedangkan manusia, banyak yang lebih memilih mementingkan diri sendiri dan egois.

Tujuh kelebihan setan ini, harus menjadi motivasi bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini, agar dapat lebih baik tentunya dibandingkan mereka para setan ini.

Wallahu’alam bishshawab, ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

7 Kelebihan Syetan Atas Manusia



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Setan merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan, yang berasal dari api. Pasukan dan keturunan Iblis ini, mempunyai misi untuk selalu merayu dan menghasut para cucu Adam, agar menjadi pengikutnya di neraka kelak.

Di dalam kehidupannya, para setan ini memiliki kelebihan-kelebihan dibanding manusia sebagai musuh utama mereka. Berikut adalah kelebihan para setan :

1. Pantang Menyerah ...
Setan tidak akan pernah menyerah, selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia, banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh.

2. Selalu Berusaha ...

Setan akan mencari cara apapun untuk menggoda manusia, agar tujuannya tercapai, selalu kreatif, dan penuh dengan ide mutakhir. Sedangkan manusia, ingin enaknya saja, banyak yang malas.

3. Konsisten ...

Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada
pekerjaannya, tidak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia, banyak yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih mengaggur.

4. Solider ...

Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bunuh dan menyakiti.

5. Jenius ...

Setan paling pintar mencari cara agar manusia tergoda dan terhasut olehnya. Sedangkan manusia, banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang jadi peniru dan plagiat.

6. Tanpa Pamrih ...

Setan itu bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, apapun harus dibayar.

7. Suka Berteman ...

Setan adalah makhluk yang selalu ingin berteman, terutama dengan manusia. Agar banyak temannya di neraka kelak. Sedangkan manusia, banyak yang lebih memilih mementingkan diri sendiri dan egois.

Tujuh kelebihan setan ini, harus menjadi motivasi bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini, agar dapat lebih baik tentunya dibandingkan mereka para setan ini.

Wallahu’alam bishshawab, ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...