Rabu, 26 September 2012

Andakah Pemuda Tampan Itu ?


Sahabat, apa yang terbayang ketika mendengar kata tampan? Bisa jadi, bagi kebanyakan kita, tampan itu berarti cakep, elok, wajahnya sedap dipandang mata. Begitupun secara refleks ingatan kita teralamatkan pada sosok-sosok cowok handsome yang sering muncul di layar televisi. Benarkah mereka tampan? Benarkah Nicolas Saputera, Brad pit atau siapalah, itu tampan?

Sahabat..
Lantas siapakah yang paling layak disebut tampan itu? Pada masanya, ada seorang pemuda murid ulama ternama Ahnaf bin Qois telah sukses menjawab pertanyaan itu. Suatu saat Ahnaf Bin Qois bertanya pada pemuda itu, “Wahai pemuda, engkau tampan sekali. Adakah engkau menghias wajahmu dengan sesuatu?” Pemuda itu menjawab, “Benar tuan, saya memang menghias wajah saya dengan sesuatu.” Ia melanjutkan, “Kalau saya berbicara tidak
berbohong, kalau ada orang sedang berbicara saya dengar, kalau saya berjanji saya tepati dan kalau diberi amanah saya tidak khianati.”

Sahabat, begitulah arti ketampanan sejati. Tiada lain adalah akhlak terpuji. Ketampanan sejati merupakan kunci keberhasilan. Sekalipun sulit mencapainya, namun yakinlah sahabat, ia adalah indikator sempurnanya iman seseorang. Rasulullah SAW. mengatakan, ”Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara kamu.” (HR. Tirmidzi dan Abu Hurairah).

Siapa berani tampan?

Muhasabah Film Penista Nabi SAW


Film IOM (Innocence Of Muslims) yang menistakan Baginda Sayyidina Rasulillah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tak lain merupakan akibat “perpaduan” yang pas sekali antara ketidak berdayaan umat muslimin dan kedengkian kaum kafirin!

Para pembuat film IOM yang menistakan Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pastilah tahu dan yakin bahwa, lebih dari 1 miliar muslim sedunia akan marah terhadap film mereka. Tapi pertanyaan, perenungan, muhasabah dan introspeksinya adalah: mengapa mereka tidak takut dan gentar?

Jadi sekali lagi tanya: Mengapa pembuat film IOM yang menistakan Nabi Teragung Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak takut dan gentar kepada kemaranan lebih dari 1 miliar muslim sedunia? Jawab: …? Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?

Padahal salah satu keistimewaan yang diberikan Allah Ta’ala hanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya, adalah ditolong dan dimenangkan dengan cara ditanamkannya rasa takut dan gentar di hati musuh saat mereka berada di tempat yang berjarak tempuh sebulan perjalanan (lihat HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Maka mari berenung, bermuhasabah dan berevaluasi diri bersama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Hampir saja (sudah dekat saatnya) umat-umat lain berkomplot terhadap kalian seperti layaknya para jago makan yang berkumpul di depan hidangan makan mereka. Seorang sahabat bertanya: Apakah itu karena sedikitnya jumlah kita saat itu? Jawab Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam: Tidak. Bahkan waktu itu kalian banyak sekali. Namun (kualitas) kalian adalah ibarat buih dan sampah air bah. (Karenanya) sungguh Allah benar-benar akan mencerabut rasa gentar terhadap kalian dari dalam hati musuh kalian. Dan (karenanya pula) Dia-pun benar-benar akan menanamkan di dalam hati kalian penyakit “al-wahn”. Sebagian sahabat bertanya: Apakah gerangan penyakit “al-wahn” itu ya Rasulallah? Dan beliau bersabda: Ia adalah cinta dunia dan benci mati (HR. Ahmad, Abu Dawud dan lain-lain dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu).

Seharusnya kita adalah umat terbaik, tapi mengapa fakta dan realitanya seolah-olah justru menjadi sebaliknya kini?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Kalian adalah umat terbaik yang dihadirkan untuk umat manusia, (karena kalian) menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran: 110).

Seharusnya kita adalah umat tertinggi, tapi mengapa fakta dan realitanya seolah-olah justru menjadi yang terendah sekarang?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kalian bersedih hati. Karena kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian benar-benar beriman” (QS. Ali Imran: 139).

Seharusnya kita adalah umat termulia, tapi mengapa fakta dan realitanya seolah-olah justru menjadi yang terhina?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum (beriman) yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras (berwibawa besar) terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui” (QS. Al-Maidah: 54).

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Mereka (orang-orang munafik) berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah (dari perang Bani Al-Mushthaliq), benar-benar orang yang lebih mulia (maksudnya kaum munafik) akan mengusir orang yang hina (maksudnya Nabi dan sahabat) dari padanya (kota Madinah).” Padahal sebenarnya kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, akan tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui (QS. Al-Munafiqun: 8).

Seharusnya kita adalah umat terunggul dan pemenang , tapi mengapa fakta dan realitanya justru selalu terpojokkan dan terkalahkan?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan barangsiapa berwala’ (mencintai, berpihak dan membela) Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, maka sesungguhnya golongan (pengikut agama) Allah itulah yang pasti unggul dan menang” (QS. Al-Maidah: 56).

Seharusnya kita adalah umat terdepan dan pemimpin, tapi mengapa faktadan realitanya saat ini justru berada di barisan akhir para pengekor?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” (QS. Al-Qashash: 5).

Seharusnya kita adalah umat saksi atas seluruh manusia, tapi mengapa fakta dan realitanya sekarang justru senantiasa berada di posisi tertuduh yang bahkan tak berdaya sekadar membela diri?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian” (QS. Al-Baqarah: 143).

Seharusnya kita adalah umat terkokoh dalam ikatan persaudaraan dan persatuan, tapi mengapa pertikaian dan perseteruan internal selalu menguras energi kita, dan bahkan mencabik-cabik tubuh lemah kita?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu (yang bertikai) itu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kalian dirahmati” (QS. Al-Hujurat: 10).

Seharusnya kita, dengan dengan iman dan akidah tauhid, seperti generasi mukminin pertama, adalah umat terkuat di segala bidang, tapi mengapa fakta dan realitanya justru menjadi yang terlemah di semua lini kehidupan?

Mengapa begitu jauh jarak antara idealita dan realita tentang umat ini? Mengapa faktanya hampir selalu sebalik yang seharusnya?

Sudahkah kita sadar bahwa, biang utama semua keterpurukan umat ini justru dari dalam tubuhnya sendiri, bukan dari luarnya?

Amirul Mukminin Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Dulu kita adalah serendah-rendah/sehina-hina umat dan kaum, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam ini. Maka kala kita mencari kemuliaan kepada selain Islam, pastilah Allah akan merendahkan dan menghinakan kita kembali!

Dan Imam Malik rahimahullah pun mengingatkan dengan ungkapan singkatnya: Generasi akhir umat ini tidak akan pernah bisa menjadi baik, kecuali dengan cara sama yang telah membaikkan generasi awalnya!

Bersama : Ustadz Ahmad Mudhoffar Jufri, Lc MA

http://ikadisurabaya.org/artikel/muhasabah-film-penista-nabi-saw

Kalau Perlu Tuhan pun Kami Teror


“Anda adalah teroris!” teriak seorang di sudut sana. “Pokoknya anda adalah teroris,! nggak mau tau!.” Yang saya bilang teroris ia harus menjadi teroris. Karena saya berkuasa. Lihat saja! Jutaan mata tertuju pada saya, hebat bukan. Saya berhak berbicara apapun. Anda hanya diam di sana. Pokoknya, kalau saya bilang anda teroris anda harus setuju.

Jika ada yang nggak setuju, anda adalah musuh kami. Kok bisa? Kata Noam Chomksy, Guru besar dari MIT itu mengutip pernyataan G.W. Bush dalam ‘Maling Teriak Maling, Amerika sang Teroris’, “Setiap bangsa di semua kawasan kini harus memutuskan: Apakah Anda bersama kami, atau anda bersama teroris. Sejak hari ini, bangsa manapun yang masih menampung atau mendukung teroisme akan diperlakukan oleh Amerika serikat sebagai rezim musuh

Jadi sekarang pilihannya, anda mau ikut kami atau tidak! Anda mau menjadi kader kami atau tidak. Anda ingin jadi penikmat kami atau tidak. Itu semua pilihan anda! Kalau nggak mau, maka anda kami cap bibit-bibit ‘teroris muda’. Sedangkan kami, di sini sedang melakukan kaderisasi. Kami sebar dengan gencar, masuk lorong-lorong kota. Sudut-sudut desa. Kami sebar dengan jangkauan kami.

Semua mata teruju kepada kami, hingga tiap rumah kami memasukinya. Pagi, siang malam. Begitu hebatnya kami. Kami mendidik kader-kader kami. Kami sebar opini-opini itu. Lihat saja, sekutu kami tersebar di belahan bumi ini. BBC, AFP, Times, dll mungkin bisa jadi kolega kami di luar sana. Di dalam sini masih banyak sekali kolega kami. Lihat saja di layar tabung di dalam rumah-rumah kalian.

Jadi, anda memilih mana? Teroris atau menjadi bagian dari kami. Mungkin anda tak sadar, anda menjadi kader setia kami. Anda perhatikan kami setiap harinya. Opini-opini kami, tersebar begitu meluas. Anda tak perlu datang ke surau-surau di sana. Cukup anda diam di dalam rumah saja. Menekan tombol remote itu. Cukup ikuti, anda menjadikan kader kami.

Jika anda ingin menjadi kader inti kami, pun itu mudah. Anda dukung kami, bahwa kami selalu benar. Saat di Filipina kami menulis ‘AS Mulai perangi Teroris Filipina”. Sekutu-sekutu kami menulis ‘gerombolan’. Atau ‘gerilyawan’. Atau ‘pemberontak’. Tapi, semuanya di belakang kami sisipi tulisan ‘Islam’.

Semua harus sepakat dengan definisi teroris kami. Sejak 11 tahun lalu, sesepuh kami mengumandangkan ‘Perang terhadap Terorisme’. Sejak saat itu, kami harus mengikuti arahan Bos besar di sana. Sebab, sekarang eranya era sana!. Kalau nggak, sudah taulah kalian. Kami bisa di stop kiriman uang segar!

Dulu, kami sempat sukses menjadikan kisah ‘pesantren sarang teroris’. Sekarang, kami harus bertambah. Teroris harus masuk ke sekolah-sekolah. Organisasi di ‘dekat’ Mesjid adalah sarana rekrutmen teroris. Cuman, doakan kami. Kami masih mencari celah, suapaya bisa tanpa sisipan ‘Islam’. Cukup tunggal saja ia sendiri.

Semua kawan-kawan kami mungkin sepakat. Sebab kami mainstream. Kami masih malu-malu. Walau pernah kami sorot buku Ibnu Katsir sebagai barang bukti. Begitu menyenangkan. Selangkah lagi, kami sedang berusaha supa Kitab Suci-nya menjadi barang bukti. Bukti yang begitu manis.

Kami ,memang punya segalanya. Kami semua selalu bersepakat tentang definisi teroris. Lihat saja. Tak pernah kami menulis ‘teroris RMS,’ teroris Papua,’. Sebab menurut definisi kami. Teroris harus mengarah ke sana. Ke sisipan –sisipan itu. Kepada orang yang belajar kitab sucinya dengan baik. Kepada siswa berseragam manis yang berprestasi itu. Pokoknya, saat dia terlihat ‘Islami’ dia harus jadi ‘teroris’

Nggak boleh mereka mengaji ayat-ayat sambil melingkar. Yang boleh hanya kami. Kami saja yang harus melakukan kaderisasi. Kami berikan doktrin kepada calon kader kami bahwa jangan mendekat organisasi ekskul Mesjid, Sebab mereka bisa menjadi baik, benar , dan ramah. Mereka menjadi bermanfaat, mereka masuk PTN favorit, mereka berbuat baik pada sesama.

Itu semua tidak boleh!. Kami tak rela kader-kader kami direbut. Kami doktrin mereka lewat mesin-mesin kami. Pokoknya yang mendekat kepada ‘Islam’ kami berusaha lawan. Kami rekrut pemuda-pemuda dengan budaya-budaya titipan dari Bos kami di sana. Senang sekali, banyak yang terekrut oleh kami.

Kami ajari dengan program bahwa kebebasan adalah segalanya. Bebas! Nggak perlu belajar agama dengan baik, karena mereka itu ‘Teroris’. Semua harus versi kami. Tak pernah kami berteriak ‘teroris zionis Israel’. Atau ‘Teroris dll’ kecuali ia harus berhubungan dengan ‘Islam’. Coba saja cek ‘The Crisis Islam-nya Bernard Lewis , atau Francis Fukuyama dalam Newsweek (2002). ‘Taking The Hard Road-nya Time (2002) malah bilang “Indonesia menghadapi pilihan sulit mengulung kaum ‘ekstrimis’ atau mengundang kemarahan Amerika.”.

Kalau menyerang Negara dengan Full senjata. Itu adalah hak bos kami. Ia bukan teroris. Tapi kalau anda ada yang ‘terduga’. Ia harus dihabisi. Tak tahulah, padahal baru terduga. Kalau mengacak-acak negeri orang atas mencari senjata pemusnah masal, itu tak masalah. Tapi kalau anda masuk Mesjid. Sstt. Hati-hati! Anda bisa-bisa jadi ‘Fundamentalis’ ‘radikalis’ ‘teroris’. Walau, kami sendiri terpaksa harus mengikuti atasan kami.

Untungnya ini zaman sekarang. Sebab, julukan tersebut tersemat pada Bung Tomo, Imam Bonjol, Cut nyak Dien, Jendral Soedirman, dll. Pastinya, cap gerombolan dan gerliyawan tersemat pada mereka oleh para orang-orang Bule itu. Orang yang berjuang membela kemerdekaan itu, tak perlu diajari arti dari nasionalisme, pancasila dan sebagainya sudah berjuang, malah tersemat jargon-jargon demikian,

Jadi, sejarah berulang. Cuman beda masa saja. Sejarah selalu berulang. Bertubi-tubi kami bersama seluruh sekutu berusaha memadamkan ‘’. Huntington dalam Clash of Civilization menjelaskan berhadapan-nya kita dengan meeka. Benar juga kata Prof. Al Attas “This confrontation is by nature a Historcally permanent one”. Pokonya kami yang selalu benar.

Hanya kami yang boleh mengkader dengan tayangan-tayangan kami. Hanya kami yang boleh menentukan anda bersama kami atau tidak. Hanya kami yang berhak memberikan pandangan. Kalau kata Goenawan Mohamad dalam Caping-nya (TEMPO, 27 Januari 2002) bilang ‘Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: Ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan.”

Bisa jadi kami sendiri yang tak sadar. Kami paksakan mereka menjadi kader kami. Kami propagandakan mereka untuk mendekati simpul-simpul kebaikan. Pokoknya, ga boleh kalau yang tak sependapat dengan kami itu yang benar! Walau kami masih mencari celah, supaya kitab suci dan agamanya dengan leluasa kami sebut ‘Teroris’. Bahkan Tuhan-pun kami Teror! Tak boleh ikut campur.. SARA!! Sejatinya, kami baru sadar, ternyata bisa jadi kami yang menjadi Fundamentalis, Radikal, bahkan Teroris itu sendiri… Wallahua’lam.

Ketika Sel Tubuh berbicara


Kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia. Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong.

Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia. Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal kebajikan kita sendiri.

Sebagaimana firman ALLAH, di dalam QS. Yasin (36) ayat 65 :


Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

Dalam sebuah penelitian kajian neurologi dibuktikan bahwa sel-sel otak ternyata menyimpan berbagai informasi dan pengalaman yang terekam sejak kita kecil, yang umumnya sudah terlupakan.

Ketika dilakukan eksperimen dengan pembedahan otak, dimana yang bersangkutan tetap sadar, ternyata ketika dirangsang sel-sel saraf tertentu, mampu menceritakan berbagai pengalaman sewaktu kecil.

Eksperimen ini memperkuat teori bahwa semua yang pernah kita ketahui dan pikirkan terekam dalam jaringan saraf otak.

Jadi, apa yang dikatakan Al Qur’an tadi semakin diperkuat oleh eksperimen ilmiah.

Teori bahwa tubuh merekam bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari…

Seseorang yang selalu sholat tepat waktu, maka ketika datang waktu sholat, tubuh seperti memiliki “biological clock” untuk segera menunaikan ibadah Sholat, meskipun dalam kondisi sakit sekalipun.

Contoh lain, bisa kita lihat dari pengalaman sopir bus malam lintas kota. Mereka ketika melewati daerah yang telah biasa dilalui, dengan mudahnya melalui jalan-jalan berliku, seakan mereka hafal betul kapan dan di mana harus berbelok. Mereka tahu kapan dan di mana akan ada tanjakan dan tikungan.

Begitu juga orang yang dulu pernah mahir bermain ping-pong atau bermain badminton, ketika dia sudah tua, meskipun sudah meninggalkan kebiasaan itu selama puluhan tahun, pasti dia akan sanggup memainkannya kembali. Mungkin gerakan dan tingkat kelihaiannya berbeda dengan masa muda-nya.

Bahkan menurut para ilmuwan, ada lebih 70 kasus yang dilaporkan dari pasien tranplantasi yang meniru sebagian kepribadian pendonor organ.

    Seluruh sel tubuh kita ibarat hard disk yang merekam dengan baik semua ucapan, pikiran, perbuatan kita. Memori ini sudah tergores di sana, dan siap dipanggil kapan saja.

Meskipun terdelete, mudah saja bagi ahli komputer untuk melacak bekas-bekas data yang sudah terlanjur masuk dalam hard disk, dengan bahasa simbol tertentu.

Oleh karena sel tubuh kita itu mampu merekam jejak apapun yang mampu kita lakukan, maka, sangat logis untuk membayangkan anggota tubuh kita akan mudah saja, tidak keliru satu titik pun saat menjadi saksi tentang segala perbuatan yang pernah kita lakukan, nanti di hadapan Allah (Sumber : Saat sel tubuh menjadi saksi)

Oleh karenanya, mari kita membiasakan diri untuk melafalkan kata-kata yang baik, selalu berdzikir dan mengingat Allah, membiasakan diri mengerjakan sholat, berpuasa dan bersedekah, serta berbuat baik kepada sesama, sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita.

Husnul khotimah (pengujung yang baik) di masa kematian kita itu tidak bisa diraih dengan tiba-tiba. Ia tak bisa dipaksa dan dibimbing oleh orang lain dengan mudah karena diri kitalah yang menentukan apakah kita sanggup mendapatkan akhir yang baik atau tidak.

Husnul khotimah merupakan akumulasi dari perjalanan panjang seseorang di masa hidupnya. Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.

Gila, “Barcelona” Berniat Beri Penghargaan Serdadu Israel Gilad Shalit


Organisasi hak asasi manusia Palestina mengutuk undangan dari tim sepak bola terkenal asal Spanyol "Barcelona" kepada serdadu Zionis Gilad Shalit, untuk memberinya penghargaan di sela-sela pertandingan, pada 7 Oktober bulan depan. Organisasi HAM Palestina menyerukan masyarakat Arab dan Islam untuk memboikot tim sepak bola tersebut.

Organisasi HAM Palestina yang menangani masalah tawanan “WAID” mengatakan, “Undangan ini merupakan penutup baru bagi kejahatan Zionis di bawah nama olahraga dan permainan sepak bola, yang di dalamnya mengandung angkara murka dan rasisme. Bagaimana mungkin sebuah tim olahraga yang mengklaim modern dan manusiawi mengundang pembunuh dan penjahat seperti Shalit untuk untuk memberinya penghargaan dan berterima kasih padanya, seraya melupakan bahwa Shalit hanyalah seorang serdadu Israel yang ditangkap karna melakukan pembunuhan terhadap perempuan, anak-anak dan warga sipil di wilayah yang diduduki (Israel).”

Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari ini, Rabu (26/9), WAID meminta semua federasi Arab, atlet Arab dan semua orang yang terhormat dan peduli "untuk menentang undangan ini melalui protes korespondensi kepada klub tersebut. Jika terus dengan langkah tersebut masaka semua klub yang bebas dan terhormat di dunia ini untuk memboikotnya."

Menurut WAID, udangan ini datang setelah langkah-langkah yang terus aktif dilakukan lobi Zionis yang berada di Eropa selama penangkapan yang dilakukan perlawanan Palestina terhadap Gilad Shalit. Karena itu masyarakat Palestina dan Arab yang ada di Eropa harus memiliki informasi tentang penderitaan para tawanan Palestina di penjara-penjara Israel untuk mengimbangi isu ini.
Organisasi HAM Palestina ini menyebutkan bahwa pemain internasional Palestina Mahmoud Sarsak ditangkap saat dalam misi olahraga. Dia ditangkap secara sewenang-wenang tanpa tuduhan apapun dan mendekam dalam penjara Israel bertahun-tahun, kemudia dia melakukan mogok makan sampai mendekati kematian, sementara kita tidak pernah mendengar suara atau sikap apapun klub terkenal asal Spanyol ini. Tampaknya kebijakan standar ganda terhadap isu Palestina dan isu tawanan telah menjadi ciri dominan klub-klub terkenal Eropa, bukan hanya para politisi populer saja.

‘Kalah’ Melawan Alquran, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam


Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional.

“Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.



Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:

Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu.

Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.

Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.

Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.

“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”

“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.

Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Berdebat Yang Tak Perlu


Di suatu padepokan di Tiongkok pernah hidup seorang GURU yg sangat dihormati karena tegas & jujur.

Suatu hari, 2 murid menghadap GURU. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik. keduanya berdebat tentang hitungan 3x7.

Murid pandai mengatakan hasilnya 21. Murid bodoh bersikukuh mengatakan hasilnya 27.

Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta GURU sbg Jurinya untuk mengetahui siapa yg benar diantara mereka , sambil si bodoh mengatakan : "jika saya yg benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau di cambuk 10 kali oleh GURU , tetapi jika kamu yg benar ( 3 x 7 = 21 ) maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri ha ha ha ....." demikian si bodoh menantang dgn sangat yakin dgn pendapatnya .

"Katakan GURU mana yg benar ?"
tanya murid bodoh.

Ternyata GURU memvonis cambuk 10x bagi murid yg pandai (orang yg menjawab 21).
Si murid pandai protes .

Sang GURU menjawab,

"Hukuman ini Bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAK ARIFANmu yg mau-maunya berdebat dgn orang bodoh yg tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!!"

Guru melanjutkan : lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada GURU harus melihat 1 nyawa terbuang sia sia !

Pesan Moral:

Jika kita sibuk mmperdebatkan sesuatu yg tak berguna,
berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yg memulai perdebatan,

Sebab dgn sadar kita membuang waktu & energi untuk hal yg tidak perlu.

Bukankah kita sering mengalaminya?
Bisa terjadi dgn pasangan hidup, tetangga atau kolega.

Berdebat atau Bertengkar untuk hal yg tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya untuk kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yg sia-sia

Saatnya Memaafkan, Sekaligus Melupakan


Dengan memaafkan, berarti Anda telah mengundang kebahagiaan untuk diri Anda sendiri. Sebaliknya, dengan tidak memaafkan, untuk selanjutnya terus membenci hanya akan mengikat orang yang dibenci tersebut di hati Anda. Jadi, tidak pernah ada ruginya untuk memaafkan, bahkan ketika kita memilih untuk egois, toh untuk kebahagiaan sendiri juga. Sekarang tinggal bagaimana bisa “benar-benar” memaafkan.

Parameter “berhasil” atau tidaknya seseorang memaafkan adalah ketika dia tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahan tersebut. Bahasa kerennya “Forgive and Forget”. Untuk itu, berikut dipaparkan metodenya.



Hal pertama yang perlu dilakukan apabila merasa disakiti adalah berpikir dengan tenang dan jernih. Coba renungkan, mengapa seseorang bisa menyakiti Anda? Mengapa bisa terjadi pertengkaran? Perlukah marah? Pikirkan juga apakah akan terajadi hal buruk apabila masalah tersebut dibiarkan?

Ingatlah bahwa apabila seseorang, terutama pasangan, menyakiti perasaan, dapat dipastikan bahwa Anda memiliki peran tindakan atau pertengkaran tersebut. Tidak ada suatu pertengkaran yang murni disebabkan oleh kesalahan satu individu.

Apabila dengan cara tersebut Anda masih merasa berat untuk memaafkan atau merasa kesalahan tersebut akan berdampak lebih buruk apabila dibiarkan, maka perlu diambil langkah kedua. Bicarakan masalah atau kesalahan yang terjadi bersama “pelaku”.

Dengan kepala dingin, bicarakan satu masalah yang ingin diselesaikan, jangan merembet sana-sini. Carilah penyebab masalahnya serta temukan kesalahan dari masing-masing individu (ingat, tidak ada orang yang salah 100 persen).

Jangan berhenti sebelum ditemukan solusi dari masalah tersebut. Berpisah atau bercerai, bukanlah solusi yang diharamkan. Namun, ingat, dalam hal ini adalah bercerai dalam konteks solusi atau bukan melarikan diri.

Setelah langkah kedua selesai, bisa juga langsung dari langkah pertama, saatnya masuk ke langkah ketiga, yaitu memaafkan. Bayangkan kejadian yang telah menimbulkan rasa sakit hati. Bersamaan dengan itu, ucapkan “Saya memaafkan kamu ketika kamu melakukan “…” (sebutkan hal yang membuat sakit hati).”

Lakukan berulang-ulang hingga perasaan Anda benar-benar yakin telah memaafkan kesalahan tersebut, ditandai dengan tidak bermunculannya kembali sederetan emosi negatif di pikiran. Bukti paling mudah untuk melihat keberhasilan terapi ini adalah ketika seseorang tidak lagi mengungkit-ungkit kejadian yang membuatnya merasa sakit hati.

Jangan ragu melakukan langkah-langkah tadi apabila kesalahan yang sama terulang kembali. Mengungkit masalah yang sebelumnya pun bukan hal yang haram, tapi hanya pembelajarannya, bukan masalahanya.

Selasa, 25 September 2012

Kisah Menakjubkan Ummu Najwa


Tangisnya melengking memecah malam saat ia dilahirkan. Tangisnya adalah kebahagiaan kami setelah sekian lama menantinya. la hadir di tengah putus asa kami setelah diagnosa dokter bahwa kami akan sulit punya momongan. Dan itulah keajaiban karunia Allah pada keluarga kecilku ….

Aku dan suami menikah hampir dua puluh tahun lalu. Aku dan suami berjumpa saat kami sama-sama menjadi TKI di Hongkong. Aku diperkenalkan oleh seorang kawan yang sama-sama bekerja di sana. Itupun aku tak menanggapi perkenalan dengan berlebihan. Aku memang pemalu dan tertutup. Semua terjadi sambil lalu. Apalagi kala itu niatku cuma satu, konsentrasi mencari biaya pengobatan untuk ibu yang stroke.



Aku lahir sebagai sulung dari empat bersaudara. Kami semua perempuan. Praktis sepeninggal bapak aku menjadi tulang punggung keluarga. Selepas lulus SMU, aku membantu ibu berdagang. Alhamdulillah, dengan modal keuletan aku bisa berdagang mandiri dengan membuka toko kecil-kecilan. Semua berjalan baik selama hampir 3 tahun.

Dan semua berubah manakala bapak divonis kanker paru-paru. Toko akhirnya ludes terjual untuk pengobatan bapak. Apa yang kami usahakan tak berhasil. Bapak akhirnya tak tertolong. Setahun setelah kepergian bapak, darah tinggi ibu membuatnya mengalami stroke seluruh badan setelah terjatuh di kamar mandi. Toko milik ibu pun akhirnya bangkrut.

Itulah awal kisah yang membawaku menjadi TKW.

Uang yang kukirim dari Hongkong itulah yang kupakai untuk membiayai ibu dan adik-adik. Alhamdulillah, perlahan ibu berangsur sembuh. Saat keadaan mulai membaik, Allah mempertemukanku kembali dengan pria kenalanku dulu di sebuah rumah sakit Hongkong.

Singkat cerita kami akhirnya menikah setelah pulang ke Tanah Air, tanpa proses pacaran. Baru menikah seumurjagung, cobaan datang. Aku mengalami menstruasi yang tak kunjung henti. Dari diagnosa dokter aku divonis menderita kanker leher rahim. Duniaku menjadi gelap. Yang ada di benakku, bagaimana nanti nasib itu dan adik-adikku.

Terapi kujalani. Puluhan juta biaya keluar. Tubuhku tinggal tulang namun kesembuhan tak juga datang. Alhamdulillah, pertolongan Allah muncul. Seorang teman menyarankan berobat Sinshe. Saudaranya pernah menderita sakit yang sama dan berhasil sembuh. Dengan bismillah aku mencobanya. Dalam 25 hari penyakitku rontok dan dokter pun terheran-heran. Subhanallah, aku senang luar biasa.

Setahun dari kesembuhan, aku mengalami sakit perut yang luar biasa, hingga keringat dingin bercucuran. Saat itu aku terlambat menstruasi sehari. Alhasil aku opname karena sakit tak mereda. Obat sudah diberi, tapi nyeri makin menjadi. Setelah menjalani serangkaian diagnosa ternyata aku hamil di luar kandungan!!

Dokter memutuskan agar aku menjalani operasi. Kabar bahagia itu berubah menjadi mengerikan. Aku akhirnya pasrah setelah dokter bilang tak ada cara lain untuk menyelamatkan calon janinku.

Dua tahun berikutnya, aku kembali berjuang melawan kanker rahim dan mioma sekaligus. Seperti dulu lagi, saat menstruasi aku sering merasakan sakit yang sangat. Darah keluar banyak hingga berpekan-pekan.Saat kubawa ke dokter hasilnya mengejutkanku dan suami. Sempat aku menangis karena takut, sedih juga tak percaya dengan apa yang menimpaku. Rasanya baru kemarin aku lepas dari lubang buaya, kini masuk ke mulut harimau. Alhamdulillah dukungan keluarga dan suami menguatkan aku. Aku berjuang mencari kesembuhan hingga hampir tiga tahun kedepan.

Meski lelah lahir batin dan materi, kami tak putus asa. Aku sangat bersyukur memiliki suami yang rela dan setia menemaniku saat susah dan senang. Sedikit pun ia tak mengeluh dengan keadaan dan kesempitan yang menimpa kami bertubi-tubi. la selalu memintaku positive thinking dan bersyukur atas semua keadaan yang kualami. Memasuki tahun ketiga, sakitku mulai mereda. Tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Kondisiku berangsur membaik. Namun dokter bilang aku akan sulit memperoleh keturunan bila kondisi rahimku terus digerogoti penyakit menakutkan ini. Bisa sehat saja, itu sudah luar biasa.

Saat masa penyembuhan itulah aku mengandung. Aku bahagia, tapi suamiku dan dokter sangat khawatir. Bahkan dokter memintaku menggugurkan kandungan dengan alasan kesehatanku dan khawatir janin tak berkembang baik. Namun aku bersikukuh mempertahankannya.

Subhanallah, perkiraan dokter meleset. Kekhawatiran suami akan kondisi kesehatanku tak terbukti. Selama mengandung aku baik-baik saja, janinku berkembang sehat. Bahkan selama mengandung aku sama sekali tak minum obat kanker pemberian dokter dan sama sekali itu tak membuat aku drop atau sakit-sakitan. Aku hanya minum vitamin dan madu serta makanan sehat lain.

Dengan persalinan normal, bayiku lahir sembilan bulan kemudian. Semua lancar. Bayiku dipastikan sehat, begitu pula diriku. Tangis bayiku hari itu adalah kebahagiaan kami semua. Dia keajaiban bagi kami setelah sembilan tahun aku bolak balik menderita kanker rahim. Ia hadiah indah di rumah kecilku, menyusul kemudian dua adik kembarnya. Karena setelah itu, rahimku tak lagi bisa diselamatkan. Kini aku benar-benar telah sembuh, Insya Allah. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga kami semua, serta menjadikan Najwa dan adik-adiknya anak-anak yang shalihah. (***)

Sumber : Ruang Diskusi Ch Olivia Wijaya

Seperti dikisahkan Ummu Najwa.

Inilah Video Bukti Kedekatan Barcelona Dengan Zionis Israel, Madrid Dengan Palestina?


Ternyata ada sebuah fakta yang mengejutkan mengenai klub Barcelona dan Real Madrid. Fakta ini mungkin menjadi salah satu alasan dari sekian ribu alasan mengapa kedua klub raksasa di Spanyol ini selalu berseteru.
Belum lama ini beredar fakta mengejutkan mengenai kedekatan tim asal Catalan itu dengan negara zionis Israel. Dalam sebuah video yang diunggah ke situs YouTube dengan judul Real Madrid vs Barcelona "Apa Beda Antara Real Madrid dan Barcelona", maka Anda akan mengetahui fakta mengejutkan mengenai kedua klub tersebut.
Dalam video yang berdurasi sekitar 3 menit 7 detik itu terlihat bagaimana Barca, julukan klub Barcelona, memiliki kedekatan yang sangat spesial dengan negara zionis Israel.
Beberapa bukti dapat dilihat dari mantan presiden Barca Joan Laporta yang tengah berfoto bersama rabi Yahudi dengan latar belakang tembok ratapan. Tidak hanya itu tampak juga Josep Guardiola yang datang dari bandara dan langsung masuk ke dalam mobil untuk mengikuti sebuah even perayaan di Yerusalem.
Dan yang paling mengejutkan tentu saja kehadiran sosok Gerard Pique yang datang bersama dengan kekasihnya Shakira. Dalam satu adegan ia terlihat berdo'a di depan tembok ratapan sebelum akhirnya befoto bersama tentara yang mengawal ke datangannya.
Dalam cuplikan selanjutnya diperlihatkan Presiden Israel Simon Peres memamerkan jersey juara bertahan Copa del Rey itu bertuliskan namanya, dan kemudian ditutup dengan sorotan fans Barca yang banyak memasang atribut Israel di Nou Camp.
   
Juan Laporta (kiri) bersama dengan rabi dan pemandangan Israel di Nou Camp (kanan)

Guardiola pernah dikritik fansnya di timur tengah akibat ikut festival di Yerusalem.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Real Madrid yang dalam video ternyata menjadi salah satu pendukung Palestina. Ya, seperti yang anda ketahui, Palestina sedang berjuang mempertahankan kedaulatan negaranya dari caplokan zionis Israel.
Dukungan yang diberikan oleh tim berjuluk Los Blancos ini tidak hanya melalui pengibaran bendera Palestina di stadion Santiago Bernabeu, tapi juga dengan kunjungan para punggawa Madrid semisal Raul Gonzalez, Cristiano Ronaldo hingga penyerang asal Brasil yang sempat bermain di Madrid, Ronaldo.

Dukungan Cristiano Ronaldo untuk Palestina.
Dukungan ini ditunjukkan dengan kunjungan Cristiano Ronaldo ke tanah Palestina untuk membantu korban anak-anak yang tertindas akibat keganasan rezim zionis Israel. Tidak hanya itu, kapten timnas Portugal itu juga bahkan menghadiri acara perjuangan Palestina untuk memerdekakan diri dari pendudukan Israel. Dia dengan bangga mengenakan syal Palestina. Bentuk dukungan konkret lainnya ia mengangkat tulisan di atas kerta berlambang bendera Palestina. “Todos con Palestina (Semua untuk Palestina)".
Hal yang sama dilakukan eks bomber Madrid, Raul Gonzales yang mengalungkan syal berlambang bendera Palestina. Ronaldo Luis Nazario juga melakukan langkah serupa yang tampak bahagia ketika mengunjungi Palestina.
 Berikut videonya :
Sebelumnya kabar mengenai kedekatan Blaugrana dengan Israel juga sempat berhembus pada tahun 2010 silam. Saat itu Barcelona dikabarkan ditekan oleh zionis Israel untuk membatalkan kontrak kerja sama dengan yayasan Qatar Foundation yang dituduh untuk mendanai Palestina.
Namun sekali lagi, terlepas dari apa yang ditunjukkan dalam video yang diunggah oleh pemilik akun bernama abodlove5, tidak ada unsur mendiskreditkan salah satu klub karena seluruh opini dikembalikan kepada para enggemar sepakbola sendiri. Satu hal yang pasti duel di antara kedua raksasa ini memang tetap sengit di La Liga.

Surat Cinta Buat Ukhti ku Berkerudung



Ini adalah unek-unek saya yang banyak dikecewakan oleh performa para muslimah yang nampak di depan kedua biji mata saya sehari-hari. Di tengah kegembiraan banyak orang yang melihat kerudung pada saat ini menjadi trending fashion banyak muslimah, saya sebenarnya gemas, kecewa, galau dan marah, tapi juga bingung.   

Pangkal kekecewaan saya adalah soal kesenjangan antara kerudung dengan gaya hidup mereka. Mengapa banyak muslimah yang berkerudung sekedar puas dengan berkerudung. Seolah-olah kerudung itu sudah babak final dalam penampilan dan lifestyle, kenapa mereka tidak mau meningkatkan kepribadian mereka, pemahaman mereka dan menjaga diri mereka? Kenapa? Kenapa? Please, somebody help me!   


Coba, pembaca pikirkan, bagaimana saya tidak bingung melihat seorang muslimah berkerudung tapi body mereka tampak melendung-melendung. Wajah manis berkerudung dalam balutan kemeja ketat yang kancingnya seolah mau meloncat karena ketarik bodi mereka yang sudah baligh, dan panggul ke bawah dililit jeans ketat – malah ada juga yang nekat pake legging (gubraaag) – sehingga ‘aset nasional’ mereka dikibarkan ke mana-mana.

Ukhtiiiiii….! Maaf kalau saya sarkastis, tapi Anda ini kan muslimah, bukan hewan qurban yang dinilai dari bobot badan dan kemontokan tubuh. Sapi dan domba qurban sengaja di-display-kan dengan vulgar di pinggir jalan agar orang-orang yang mau berkurban ngiler untuk membelinya dan mengurbankannya untuk fakir miskin.  

Tapi ukhti kan muslimaaaah, bukan kambing qurban. Semakin Anda tertutup semakin ‘mahal’ harga ukhti di hadapan Allah, beda dengan hewan qurban yang semakin nampak sintal bodinya makin mahal harganya. Pahamkah kekesalan saya, ukhti?!Ini bukan berarti saya ini maho atau cowok KW. Bukan. Saya pria tulen.

Saya senang dengan kecantikan dan keindahan wanita karena itu kodrat saya, tapi kan Allah melarang saya meneropong tubuh ukhti dari ujung rambut ke ujung jempol. Bisa-bisa saya digampar malaikat Zabaniyyah.   

Jadi, please, saya minta kerja samanya, jangan bikin hidup saya yang susah jadi tambah susah. Kalau memang ukhti cantik dan punya penampilan berkelas ala Chef Farah Queen atau Magdalena ya itu mah urusan ukhti dan suami ukhti kelak. Tapi jangan bawa-bawa saya untuk mengaudisi penampilan ukhti. Saya masih lelaki dan saya masih takut nambah saldo dosa.Pakaian ukhti bila keluar rumah adalah kerudung dan baju panjang yang kita sebut jilbab. Itu yang diperintahkan Allah kepada ukhti dan yang sekaum dengan Anda. Kalau ukhti senang dengan tank top, baby doll, mini skirt, atau hotpants ya silakan dipakai di balik jilbab ukhti. Tidak usah saya diajak mengintip semuanya.   

Saya juga gerah dan marah kala menyaksikan ada remaja berkerudung jadi alay-alay di layar kaca. Entah di acara In***, D*****t, atau yang sejenisnya. Sama saat saya juga geli dan ketawa garing ngeliat ukhti-ukhti berkerudung ngantri tiket Justien Biber atau Lady Gaga. Ya, Allah aku berlindung kepadamu dari godaan Lady Gaga yang terkutuk!  

Saya juga ngakak sedih (gimana nih maksudnya) saat denger siswi-siswi sekolah Islam tergila-gila dengan opa-opa alias gerombolan cowok K-Pop, atau drama serial Korea. Dan saya lebih ngakak lagi setelah tahu banyak juga mahasiswi penggiat dakwah yang mengoleksi foto-foto personil boysband asal negeri ginseng itu di lapie mereka. Battle, Dong Ban Shin Ki, Super Junior, Purple Line, Ss501, dsb. Saking kesalnya saya sering bilang di acara-acara remaja kalau cowok-cowok macam gitu banyak bertebaran di Glodok, Mangga Dua atau Surya Kencana Bogor lagi jaga lapak hape.   

Tapi bukan soal itu saja yang membuat emosi saya kadang meradang melihat ukhti dan teman-teman ukhti. Ada soal lain yang saya terus terang gerah dan jadi garang. Apa? Pacaran!   Saya sering geleng kepala kalau sudah melihat akhwat berkerudung – apalagi berjilbab – berasyik masyuk dengan cowok yang bukan mahram dan suami juga bukan.Boleh percaya atau tidak, ukhti, saya pernah mendamprat – ini mungkin terlalu dramatisasi, tepatnya mempermalukan – sepasang kekasih di dalam angkot. Keduanya siswa almamater sekolah saya. Tapi yang bikin kepala panas adalah ceweknya berkerudung rapih dan cowoknya berjenggoooot (saya saja sampai sekarang belum sukses menumbuhkan jenggot!) Keduanya duduk di pojokan angkot dan tangan tuh cewek ada dipangkuan cowoknya sambil diremas-remas. Edaaaan! Astaghfirullah al-‘azhim!“Udah nikah, belum?” tanya saya panas.“Eh, belum, Pak?” jawab tuh cowok blingsatan sambil melepaskan tangan ceweknya. Untung nggak dilepaskan dari persendian badannya. Bla, bla, bla, saya nasihatin mereka berdua. Entah keduanya paham omongan saya atau tidak. Entah setelah itu mereka bubar pacaran atau malah menganggap sikap saya sebagai ujian dan prahara dalam cinta (lebaaaay!).   

Di mana-mana saya sering lihat akhwat berkerudung berasyik masyuk dengan pacar-pacar mereka. Di atas motor Kawasaki Ninja yang keren ada akhwat yang lengket ke punggung cowoknya ( jadi ingat seseorang...siapa ya...). Karena tuh motor Jepang jok belakangnya nungging maka cewek berkerudung itu ikutan nungging dan makin bersandar ke punggung cowoknya. Mungkin sambil berpikir bangga ‘cowok gue motornya keren’. Nggak peduli sebenarnya punggung cowoknya panuan, nggak peduli juga pada komentar orang-orang yang menyaksikannya. Saya sebaaal lihat ukhti seperti itu.   

Saya juga marah pada kawan saya Ustadz Shofwan yang pernah cerita kalau dia pernah diajak warga menggerebeg sepasang mahasiswa yang sedang mesum di malam hari di bulan suci Ramadhan. Ceweknya…..? Mahasiswi berkerudung! Coba bayangkan saudara-saudara, keduanya ketangkap basah sedang mesum di bulan Ramadhan pula! Ini kan gila! Saat orang berburu pahala, mereka malah saling berburu paha (tanpa la). Kalau mereka orang atheis, saya nggak bakal marah. Tapi dia berkerudung. Sad but true. Saya marah pada kawan saya itu kenapa story buruk kayak begini harus diceritakan pada saya. Bikin saya makin sebal pada ukhti berkerudung yang liar seperti itu. Tapi itu bukan satu-satunya cerita, masih banyak cerita yang serupa yang saya dengar dari kawan-kawan yang lain. Ada juga yang cerita kalau di antara cewek berkerudung itu ada yang jadi wanita panggilan. Malah katanya tarifnya premium call alias bisa lebih mahal karena kesannya eksotis dan reliji. Ancuurrr! Saya jadi bertanya; untuk apa sih ukhti berkerudung? Apa makna hijab dalam kehidupan ukhti? Tolong jawab 1 x 24 jam dari sekarang! Sering saya dengar ada kalangan sotoy yang bilang ‘jilbabi dulu hatimu sebelum tubuhmu’. Apa maksudnya? Sok berfilsafat tapi gajebo, ga’ jelas bo!

Nanti para cewek yang pakai hotpants bisa berdalih ‘ mas, jangan lihat tubuh seksi saya, tapi rasakan hati saya yang berjilbab’ Hueeeks! Pernahkah ketika ukhti memutuskan untuk berkerudung apalagi berjilbab merenung bahwa harus ada sebuah perubahan dalam hidup ukhti? Akan lebih terjaga, lebih dekat kepada Allah, dan lebih berani meninggalkan maksiat?Kekesalan itu saya tumpahkan di sini, biar ukhti baca kalau apa yang ukhti lakukan itu berbahaya, dosa dan merusak korps akhwat berkerudung dan berjilbab. Kalaupun ukhti tidak baca, saya berharap agar ada yang meng-copy paste tulisan ini dan sharing ke mana saja agar dibaca oleh ukhti dan yang se-alam dengan ukhti.   

Untuk ukhti yang sudah terlanjur membacanya dan marah-marah, saya harap agar malam nanti merenung; sudah benarkah gaya hidup saya? Percayalah, mencopot kembali kerudung bukan jawaban yang benar. Yang harus ukhti lakukan adalah terus menyelam dalam ajaran Islam yang indah dan menyejukkan ini. Banggalah sebagai akhwat berjilbab dan jagalah kehormatan diri sampai mati. That’s all, ukhti fillah!t Ukhti ku Berkerudung

Na’udzubillah! Media Online Rakyat Merdeka Online Pun Menstigma Hamas Sebagai Teroris!


Isu teroris memang lagi sedap-sedapnya dihembuskan oleh berbagai media. Mulai dari Metro TV yang sudah kelihatan belangnya terhadap Islam dan umat islam untuk membuat stigma-stigma negatif mengenai keagamaan. Hingga sampai menstiga Rohis adalah tempat perekrutan generasi teroris baru.

Serasa para wartawan koran nasional juga sepertinya gagap dunia jurnalistik. Atau paling tidak terkesan ingin menstigma berbagia perjuangan umat Islam dimanapun dianggap sebagai teroris.

Rakyat Merdeka Online pun membuat sebuah berita dengan judul “Kelompok Beji, Tambora dan Bojong Gede Terkait Kelompok Urwah.” Sayangnya foto ilustrasi terorisnya adalah sebuah kelompok pejuang kemerdekaan Palestina, dari pasukan Hamas, Izzudin Al Qassam. Bahkan dibawahnya pun ditambah kata “TERORIS/1ST” yang diidentikan sebagai teroris nomer satu. linknya bisa dilihat disini rmol.co/read/2012/09/24/79241/Kelompok-Beji,-Tambora-dan-Bojong-Gede-Terkait-Kelompok-Urwah-

Jurnalis ataupun admin situs yang memperlihatkan foto pejuang Hamas, lalu diidentikkan dengan Teroris lantaran memakai penutup muka dan ada huruf arab di ikat dalam kepalanya. Tentu sudah membuktikan ketidak profesional-an seorang Jurnalis dalam mencari informasi berita siapa yang disebut teroris sebenarnya.

Seharusnya jika memang tidak ada foto yang tepat untuk mewakili isi pemberitaan, seorang jurnalis bisa memberikan kata “ilustrasi” dibawah fotonya dengan foto yang lain serta dikaburkan gambarnya. Lah ini jelas sekali seorang pasukan Pejuang Palestina dari Brigade Izzudin Al Qassam malah dikatakan sebagai “TERORIS/1ST”, Masya Allah.

Kegunaan pasukan Brigade Izzudin Al Qassam menutup kepalanya adalah karena mereka adalah pasukan elite Hamas. Brigade Al Qassam adalah pasukan yang memang dilatih oleh HAMAS dan mempunyai tingkat kemampuan militer yang bagus guna menghadapi pasukan Israel.

Selayaknya pasukan elite yang lain, tentu mereka harus menjaga kerahasiaan siapa-siapa mereka yang berada dibaliknya. Densus 88 saja harus sama memakai penutup kepala untuk menjaga kerahasiaan pasukannya, apalagi Pasukan elit Hamas ini. Tentu ancamannya lebih berbahaya lagi karena dalam kondisi perang.

Jurnalis RMOL seharusnya berhati-hati dalam mengambil gambar. Jangan asal saja lalu menjuluki mereka sebagai teroris. Pasukan Hamas itu sama dengan pasukan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, hanya Belanda yang menyebutkan mereka sebagai “teroris”, tetapi kita menyebut pasukan Indonesia adalah pejuang kemerdekaan.

Umat Islam Indonesia sudah pernah dibantu dana yang sangat banyak oleh pengusaha kaya Palestina dalam usaha memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Lalu apakah pantas sebagai orang Indonesia kita menjuluki pasukan kemerdekan Palestina sebagai Teroris nomer 1? Beginikah kalian, membalas Air Susu dengan air tubah kepada pasukan kemerdekaan Palestina!

Masya Allah, semoga jurnalis Rakyat Merdeka Online sadar dan Insaf telah menggelari pasukan Hamas sebagai teroris nomer 1. Silahkan lihat ulah Jurnalis Rakyat Merdeka Online:
http://suaranews.com/4062/naudzubillah-media-online-rakyat-merdeka-online-pun-menstigma-hamas-sebagai-teroris

Hanya Di Homs, Roti ‘Dijual’ dengan Surah Al-Fatihah


Sebuah toko roti di kota Homs Suriah ‘menjual’ rotinya kepada orang-orang dengan bacaan surah Al-Fatihah setelah bangunan dan masjid yang berdekatan dengan toko itu dihancurkan tentara rezim Assad.

Beberapa halaman di situs jejaring sosial Facebook menyebutkan bahwa pada papan yang terletak di atas ‘toko roti para syuhada’ itu tertulis “Satu roti untuk bacaan surah Al-Fatihah.” Para pemuda yang bekerja di toko itu membagi-bagikan roti secara gratis kepada masyarakat dengan syarat mau membaca surah Al-Fatihah dan niatnya dikirimkan untuk para syuhada yang berasal dari kota Homs dan kota lainnya di Suriah. Kegiatan ini dilakukan agar warga kota lain terketuk hatinya untuk menyalurkan bantuan ke Homs.

Menurut salah seorang aktivis Homs, “Anak-anak di sini membaca surah Al-Fatihah untuk mendapatkan sejumlah roti yang akan mereka bagi-bagikan ke rumah penduduk.”

Tindakan seperti ini, seperti yang dianalisa beberapa pengamat dan aktivis politik, menunjukkan bahwa rakyat Suriah dapat bersatu untuk menghadapi perang yang tengah dilancarkan oleh rezim Assad. Tampaknya sepotong roti gratis yang didapatkan dengan bacaan surah Al-Fatihah lebih besar efeknya daripada pesawat yang membombardir wilayah itu dan menghancurkan masjid-masjidnya sehingga orang-orang tidak memedulikan tentara pro Assad yang akan menyerang mereka tiba-tiba.

Perlu dicatat bahwa Bashar Al-Assad telah mengubah kota Homs menjadi kota bencana karena dianggap sebagai basis kubu revolusi Suriah, ini dibuktikan dengan adanya kerusakan bangunan di mana-mana. Rezim Assad menghentikan pasokan makanan dan obat-obatan bagi warga Homs agar mereka menyerah dan mundur dari perjuangan melawan Assad. Pada kenyataannya mereka tetap bertahan dan memberikan contoh terbaik kepada semua orang dalam hal kebersamaan dan solidaritas di antara mereka.

http://news.fimadani.com/read/2012/09/24/hanya-di-homs-roti-dijual-dengan-surah-al-fatihah/

Dari Bahan yang Sama tapi Hasilnya Beda


Pernah makan mie goreng atau mie kuah pake telur ceplok di warung bubur kacang ijo (burjo) orang sunda ? Ketika masih di tangerang dulu, saya pernah bahkan sering nangkring di warung yang satu ini. Tentunya untuk menikmati menu favorit mie goreng pake telur ceplok. Lain waktu, saya pernah mencoba memasak sendiri mie goreng pake telur ceplok. Sepintas nggak ada masalah. Sebab, mie goreng yang dipakai dan telur ceplok di jual umum di pasaran. Setelah di coba, apakah hasilnya sama ? Hm.... ternyata tidak. Meski bahan yang digunakan sama, namun rasanya tetap beda. Masih lebih enak kalau makan mie goreng di warung burjo. Pendapat senada juga di ungkapkan tetangga saya yang kebetulan sama sama pernah tinggal bersama ditangerang. Kata dia, masih lebih enak mie goreng burjo ketimbang buatan sendiri.



Saya jadi berpikir, ternyata segala sesuatu yang pada awalnya sama, belum tentu menghasilkan sesuatu yang sama pula. Sebab, ada faktor lain yang tak kalah
penting. Yakni, cara yang di gunakan. Dalam kasus di atas, cara memasak dan mengolah bumbu yang berbeda menjadikan mie goreng burjo lebih sedap dan disenangi banyak kalangan.

Hal ini tidak hanya berlaku dalam soal masak memasak. Namun, juga dalam berbagai aspek kehidupan.

Coba pikir, semua orang punya banyak kesamaan. Sama sama memiliki waktu 24 jam. Sama sama pengen jadi orang sukses mulia. Namun, cara mengisi waktu dan cara mewujudkan cita cita itulah nantinya yang akan membedakan antara satu dengan yang lain. Ada yang sukses, ada juga yang tidak sukses. Ada yang mulia dan ada juga yang nista hidupnya. Agar terhindar dari kenistaan dan ketidakberuntungan, kita harus pake manual/panduan hidup yang tidak pernah salah, pasti benar, pasti lengkap dan pasti akan menjadikan setiap kita sukses mulia.

Apa coba panduan suksesmulia ? bagaimana cara mendapatkannya ? pesan di mana ? harga berapa ? jangan jangan mahal ?

Jangan salah sangka. Panduan ini gratis, bisa didapatkan oleh siapapaun, di manapun dan kapan pun. Anda tidak perlu bayar dan bisa langsung praktek. Panduannya adalah............
AL QURAN DAN AS SUNNAH.. Subhanallah....
Sayangnya, banyak orang yang abai dan buta karena hatinya tertutup nafsu duniawi.
Karena panduan hidupnya salah, banyak yang lebih memilih korupsi, kolusi, selingkuh, melakukan tindak kriminal dan kemaksiatan lainnya.
Nauzubillahi min dzalik Anda pilih yang mana ?

Waspadai, Yahudi Zionis Israel Dibalik Charlie Hebdo!


PARIS-Bisa diduga, ternyata Yahudi Zionis Israel yang berada di belakang Majalah Perancis Charlie Hebdo. Adalah Phillipe Val, salah satu pendiri Charlie Hebdo, yang nyata-nyata pendukung Yahudi dan Zionis Isreal, juga seorang yang sangat anti Islam. Waspadalah, perang baru saja dimulai!

Darimana Muasal Charlie Hebdo?

Nama Charlie Hebdo diadaptasi dari seorang jenderal terkenal Prancis yang terlibat dalam Perang Dunia II, Jenderal Charles de Gaulle. Ia terpilih sebagai Presiden Prancis pada 21 Desember 1958, dan pensiun pada 1969.

Charlie juga berarti Charlie Brown, tokoh paling santai dari komik Peanuts. Ia terkenal sebagai pembuat karakter anjing lucu bernama Snoopy. Filosofi nama Charlie diharapkan kritis seperti de Gaulle, namun tetap santai menghadapi masalah laiknya Brown.

Sejak awal terbitnya pada 1969, Charlie Hebdo memang mengkhususkan diri pada media satir, antiagama, penganut ideologi sayap kanan dan ateis. Tidak hanya mengkritik, mengumpat bahkan menjadi barang jualan media yang terbit setiap Rabu itu. Namun, dalam beberapa karyanya, Charlie Hebdo terang-terangan mendukung Yahudi dan Zionis Israel.

Lantas siapakah dibalik Charlie Hebdo? Saat ini Charlie Hebdo dipimpin Gerard Biard. Charlie Hebdo bisa dibilang media independen karena semua pendanaan datang dari patungan para pendirinya, Phillipe Val, Georges Blondeaux, Jean Cabut, dan Renauld Sechan.

Tapi independen Charlie Hebdo tercemar oleh ideologi Phillipe Val yang diketahui sebagai pendukung Yahudi dan Zionis Israel. Ia juga diketahui anti-Islam. Tak heran jika pemberitaan Charlie Hebdo banyak mengkritik dan menghina Islam.

Sejatinya, media ini sudah bangkrut tak lama setelah terbit. Tapi, pada 1992 Charlie Hebdo kembali terbit dan menjadi media yang mengkritisi setiap kebijakan negara-negara Islam.

Majalah beroplah 150 ribu itu sebenarnya tidak dilirik warga Prancis. Charlie Hebdo mulai terkenal tidak hanya di Negeri Menara Eiffel itu, tapi juga dunia, setelah menerbitkan kartun Nabi Muhammad SAW. Mereka menggambarkan Rasulullah SAW dalam keadaan tanpa busana. Masya Allah, Na’udzu billah min dzalik!



Majalah itu juga mengutip kartun di Jyllands Posten, media Denmark yang juga melecehkan Nabi Muhammad SAW lewat komik untuk kali pertama. Karena penerbitan kartun Nabi, Charlie Hebdo dikecam umat Muslim dunia, dan Prancis terkena imbasnya.

Charlie Hebdo seolah-olah mengambil keuntungan dengan memercikan minyak tanah, saat emosi umat Muslim dunia terbakar dengan penayangan film 'Innocence of Muslims' buatan Amerika Serikat. Film itu juga menghina umat Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Karena ulah Charlie Hebdo, Pemerintah Prancis memutuskan menutup Kantor Kedutaan Besar, konsulat, pusat kebudayaan, dan sekolah internasional di 20 negara-negara Islam.

Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius mengkritik keputusan Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad SAW. Sebab, Prancis juga terkena getahnya.

"Di Prancis, ada prinsip kebebasan berekspresi, yang tidak boleh dirusak," kata Fabius.



"Dalam konteks ini, mengingat video (Innocence of Muslims) tidak masuk akal yang telah ditayangkan, emosi yang kuat telah terbangun di banyak negara muslim. Apakah itu benar-benar masuk akal atau cerdas untuk menuangkan minyak ke dalam api?" ujar Fabius geram.



Bukan hanya minyak yang dituangkan Majalah Charlie Hebdo ke dalam api, melainkan bensin yang lebih besar cepat nyalanya. Jadi, jangan salahkan jika kemudian kaum Muslimin menuntut balas atas penghinaan Majalah Charlie Hebdo ke seluruh fasilitas negara kafir Perancis dimanapun. Allahu Akbar!

DICARI MENANTU SEORANG MUADZIN


Beberapa tahun yang silam, ada seorang ibu yang minta tolong dicarikan calon suami untuk putrinya. Ibu yang taat beribadah ini tidak memberi syarat yang muluk-muluk. Yang penting calon ini seorang muadzin!

Namun beruntunglah sang ibu itu. Karena permintaan itu ditujukan kepada penghuni kos-kosannya yang kebetulan mahasiswa aktivis dakwah di sebuah kampus PTN terkenal, maka yang dijaring tentu saja para muadzin yang juga mahasiswa atau alumni kampus tersebut. Jadilah akhirnya menantunya tidak cuma muadzin, tetapi juga seorang sarjana berprestasi, yang kebetulan sudah punya pekerjaan sehingga siap menikah.

Apa yang dilakukan sang ibu itu mungkin hal yang langka pada zaman sekarang. Karena masyarakat sudah sangat kapitalistik, maka syarat yang diberikan ketika mencari pasangan atau menantu juga sangat berbau materi: punya pekerjaan (diutamakan PNS atau pegawai BUMN), bahkan sudah punya rumah dan kendaraan. Tampang nomor dua. Keshalihan nomor 20 ...

Pada masa keemasan peradaban Islam, muadzin adalah calon menantu idaman. Andai saat itu sudah ada lagunya, bunyinya akan begini, "Kalau ibu - pilih menantu - pilihlah dia - sang muadzinku -Dia idaman - pujaan hatiku - juru panggil jamaah shalat di kotaku ..."

Kenapa?
Pertama, seorang muadzin, dan ini yang dimaksud adalah muadzin tetap, bukan muadzin sporadis, tentu saja dapat diasumsikan seorang yang shalih, karena dia pasti rajin shalat berjamaah dan akhlaknya tidak cacat di kaumnya. Karena tentu saja aneh dan bakal dipersoalkan umat, kalau habis adzan malah tidak ikut shalat berjamaah, atau kadang-kadang bermaksiat.

Kedua, seorang muadzin, lebih diutamakan yang suaranya merdu. Umat akan kecewa bila
suara muadzinnya kurang enak didengar. Kalau suaranya merdu, insya Allah, dalam kondisi marahpun, tetap merdu ...

Ketiga, pada masa itu, ketika tv, radio, jam dan jadwal sholat abadi belum ada, setiap muadzin harus mengetahui waktu-waktu shalat dengan melihat langit. Dia harus menguasai dasar-dasar ilmu falak. Karena itu, seorang muadzin pastilah lulus suatu training astronomi dasar. Jadi dia pastilah orang yang cukup cerdas.

Keempat, pada masa itu jihad fi sabilillah masih banyak dilakukan. Jihad ke tengah lautan atau padang pasir, membutuhkan navigator yang baik, dan saat itu, ketika GPS belum ada dan kompas juga masih langka, astronomi menjadi andalan. Dan siapa lagi yang punya bekal dasar astronomi, kecuali muadzin?

Maka banyak muadzin direkrut menjadi navigator armada jihad. Jadilah muadzin ini veteran-veteran jihad. Jadi seorang muadzin itu pastilah seorang pemberani.

Tak heran banyak gadis Muslimah yang mengidolakan sosok lelaki yang shalih, bersuara merdu, cerdas dan pemberani, seperti ibu mereka mengidolakan calon menantu seperti itu, dan itu adalah muadzin!

Christopher Stevens Tewas karena sesak nafas, bukan terkena roket dan para pengunjuk rasa lah yang membawanya ke rumah Sakit


Muslimin Libiya berteriak : "Allahu Akbar" ketika mengetahui Christopher Stevens masih hidup dan berharap bisa menyelamatkannya

Sebuah video amatir yang menunjukkan masyarakat Libya sedang berupaya menyelamatkan Duta Besar Amerika Serikat untuk Libya, Christopher Stevens, beredar di internet.

Stevens ditemukan tak sadarkan diri di sebuah ruangan yang penuh asap setelah massa menyerang kantor kedutaan AS terkait film penghinaan Nabi Muhammad, pekan lalu.

Padahal, sebelumnya, menurut laporan pemerintah Libya, Stevens dan tiga stafnya tewas saat mobil yang mereka tumpangi diroket orang tidak dikenal. Di saat ribuan orang menyerbu kantor kedutaan AS di Libya tersebut.

Seperti diberitakan Reuters, video yang muncul menegaskan bahwa duta besar AS itu meninggal karena sesak napas setelah bangunan terbakar.

Dalam rekaman itu menunjukkan beberapa orang memaksa masuk ke kompleks kedutaan dan kemudian menyelamatkan Stevens yang terbaring sendirian di salah satu kamar gedung.

Sekelompok pemuda yang sebelumnya menyerbu gedung kedutaan AS terlihat dengan cahaya obor dan ponsel berteriak bahwa mereka telah menemukan orang asing yang tergeletak di lantai.

"Ada seseorang di dalam.. Dia orang asing, dia adalah orang asing. Bawa dia keluar," kata seorang pria berteriak minta tolong.

"Bawa dia keluar! Bawa dia keluar!," kata yang lainnya.
"Pria itu masih hidup. Bawa dia keluar. Bawa dia keluar," kata pria yang lainnya.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar !" teriak kerumunan.

"Berikan ruang. Apakah ada seorang petugas medis di sini. Siapa yang bisa mengantarkannya dengan mobil cepat?" kata seorang pria.

Rekaman itu menunjukkan Stevens berbaring di lantai di ruangan yang penuh asap setelah pengunjuk rasa menyerbu kompleks dan membakar bangunan tersebut.

Beberapa menit kemudian, Stevens ditarik keluar dari ruangan melalui jendela, dan kemudian ditempatkan di lantai ubin. Seorang pria muda terlihat meletakkan tangannya di lehernya untuk memeriksa apakah ia bernapas.

Beberapa detik setelah ditemukan, Stevens masih dalam keadaan hidup. Seorang pemuda berteriak,"Bawa dia ke mobil saya, bawa ke mobil saya."

Seorang dokter yang bertugas di ruang gawat darurat di Pusat Medis Benghazi malam itu mengatakan, yang membawa duta besar AS adalah warga sipil lokal. Sementara dokter melakukan CPR selama 45 menit, Stevens meninggal akibat sesak napas karena menghirup asap. Mayatnya kemudian dikembalikan ke AS

***

Jika Pengunjuk rasa berniat membunuh Christopher Stevens, lalu untuk apa mereka membawa nya ke Rumah Sakit ketika mengetahui Christopher Stevens masih hidup?

Bukan cuma Media Barat, beberapa Media di Indonesia pun ikut-ikut memberitakan Christopher Stevens tewas dihantam Roket!

Kisah Nyata Menyentuh :SENYUM INDAH SANG BIDADARI


Bunda, puasa itu wajib ya? Kata bu guru Ila, puasa itu wajib buat semua muslim," tanya Nabila sepulang sekolah. "Ila juga mau ikutan puasa ah, supaya dapat pahala dan masuk syurga," lanjutnya.

"Ila mau masuk syurga, Nda. Ila mau jumpa Allah," ia masih melanjutkan kalimat penuh antusias dari bibir mungilnya. "Kalau Ila masuk syurga, Ila bisa jumpa ayah ya, Nda? Tapi nanti siapa yang jagain Bunda?"

Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya, seperti biasa ia akan terus berceloteh riang tanpa henti. "Iya sayang, jadi Ila juga mesti belajar puasa dari sekarang ya, supaya Allah makin sayang sama Ila," sahutku bahagia mendengar semangat putri kecilku itu.



Ketika mengantarnya tidur, ia kembali mengingatkan untuk membangunkannyasaat sahur nanti. Ia berbisik di telingaku saat aku mengecup keningnya di tempat tidur, "Nda, kalau besok Ila puasa penuh, do'ain Ila cepat jumpa ama Allah ya," pintanya polos.

Deg! Ada perasaan lain menyergapku. Ah, segera kutepis rasa aneh itu. Seharusnya aku bersyukur ia tidak seperti teman-teman sebayanya yang sulit diajak belajar berpuasa. Aku mengiyakan dan hanya mengangguk dalam diam, ribuan syukur kupanjatkan padaNya karena telah menganugerahkanku seorang putri kecil yang luar biasa.

Di sepertiga terakhir malamku, kembali kutumpahkan airmata kesyukuran atas karuniaNya memberiku Nabila di sebuah episode kehidupanku. Kuhiba segunung pinta agar Dia selalu menjaganya di tiap desah nafas yang Ia berikan. Tiada lain yang kuinginkan selain menjadikan putriku seorang wanita shalihah bidadariMU di dunia.

Nabila terlihat begitu bersemangat menyantap sahurnya. Ia mengambil sayur yang biasa enggan disentuhnya tanpa kuminta. Benar-benar sahur pertama yang begitu berkesan bagiku, sama seperti sahur pertama beberapa tahun lalu saat aku merasakan berpuasa pertama dengan status baruku sebagai seorang istri dari lelaki pilihan yang dipilihkanNya.

Pagi ini, sebelum mengantar Nabila ke sekolah, kusempatkan mampir ke toko peralatan kue untuk membeli beberapa bahan yang kubutuhkan. Kuajak Nabila turun dan kugandeng ia masuk ke dalam toko. Aku sibuk memilih beberapa bahan hingga tak sadar bahwa Nabila tak lagi di sampingku.

Tiba-tiba kudengar beberapa wanita menjerit dan orang-orang berlarian di luar toko. Aku tersadar Nabila tak ada di dekatku. Aku panik dan ikut berlari ke luar karena aku tak bisa menemukannya di dalam toko.

Aku berlari ke arah kerumunan orang ramai dan sesaat kurasakan bumi seolah berhenti berputar. Bumi tempatku berpijak seakan-akan menarik segenap kemampuanku tuk bergerak. Di depanku, Nabila tergeletak dengan baju seragam putihnya yang berlumuran darah.

Segera kudekap ia erat dan menggendongnya sigap. Aku dibantu beberapa orang di sekitar lokasi segera melarikan buah hatiku ke rumah sakit. Di dalam mobil kudengar orang-orang mengatakan bahwa putriku adalah korban tabrak lari.

Sungguh aku tak peduli bagaimana kejadian sebenarnya atau siapa pun pelakunya, bagiku saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa putri mungilku. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku beristighfar dan mengajak bicara putriku dan memintanya bertahan.

Nabila mengeluarkan desah-desah kecil yang berusaha kutangkap, "Nda, sakit. Kepala Ila, Nda." Jelas terlihat ia menahan sakit yang tak tertahankan.

Sekuat tenaga aku berusaha menyimpan tangisan yang sudah menyesak di dada. Aku tak boleh terlihat menangis karena itu akan membuatnya lebih sakit dan panik. Aku harus terlihat tenang agar semangatnya muncul untuk berjuang melawan sakitnya.

"Ila sabar ya sayang, kita hampir sampai ke rumah sakit. Bunda tahu anak bunda kuat, Ila harus bertahan ya sayang, Allah pasti bantu Ila supaya sembuh," ah, derai itu sulit sekali terbendung saat melihat raut wajah bidadari kecilku yang pucat menahan sakit. Darah terus mengalir dari pelipisnya.

"Nda, Allah sayang Ila kan. Allah mau kan jumpa Ila?" parau suaranya masih bisa terdengar di telingaku.

Sebuah senyuman tersungging di bibir mungilnya. Senyuman terindah yang pernah ia punya. Ah, semakin erat dekapanku seolah ia tak ingin kulepaskan lagi.

Aku seolah terseret ke peristiwa 2 tahun silam saat aku berada di posisi yang sama, mendekap seseorang yang sudah menjadikanku permaisuri di taman hatinya meregang nyawa setelah sebuah mobil menabraknya tepat di depan pintu gerbang setelah mengantarkanku ke sekolah tempatku mengajar. Masih terpahat di ingatan, senyuman terakhir yang diberikannya sore itu. Ya Rabb, kuatkan hamba.

Sampai di rumah sakit, Ila segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter memintaku untuk menunggu di depan ruang operasi karena ternyata Ila harus segera dioperasi disebabkan pendarahan hebat di kepala dan punggungnya.

Aku merasa detik demi detik merambat begitu perlahan di ruang tunggu itu. Setelah hampir 2 jam menghabiskan waktu dengan kecemasan yang sulit digambarkan di depan ruang operasi itu, akhirnya aku menyeret langkahku ke arah mushala di ujung koridor tuk mengadukan segala gundah yang kurasakan di atas sajadah cintaNya.

Setulus kalbu kupinta dan kurayu pada sang pemberi hela nafas agar Ia menyembuhkan putri kecilku. Namun di sebalik semua itu, aku hanya meminta yang terbaik dariNya untuk cahaya mataku itu, karena aku yakin apa pun yang diputuskanNya, maka itu adalah yang terbaik untuknya, untukku, dan untuk semuanya.

Aku hanya meminta Dia memberiku kekuatan melalui semua ini. Ketenangan semakin kurasakan saat lirih ayat-ayat cintaNya itu kulafadzkan lirih. Ada rasa damai yang tiba-tiba hadir menyelusup di sanubari.

Kembali ke ruang tunggu kujumpai seorang wanita separuh baya yang kurasakan juga sedang menghadapi gundah yang sama. Ah, ruang ini, bangunan ini, seakan airmata, kegelisahan, dan kecemasan tersketsa di tiap sudut rumah sakit.

Setelah hampir 4 jam menunggu dengan kecemasan yang tak tergambarkan, dokter itu ke luar dan menatapku dengan tatapan sendu. Aku hafal sekali tatapan itu, tatapan yang sama saat lelaki yang telah menjadikanku seorang ibu itu dibawa masuk ke ruang operasi, tatapan serupa saat wanita yang menjadi perantara hadirku ke dunia harus melawan maut di meja operasi itu.

Ya Allah, kupinta kekuatan dariMU. "Nda, kalau besok Ila puasa penuh, do'ain Ila cepat jumpa ama Allah ya," terdengar lagi pintanya semalam.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ...

Kulihat wajah Nabila pucat seperti kapas, namun di wajahnya senyum manis itu tak jua sirna, tak lagi kulihat sebuah derita di sana, yang tersisa hanya sebuah senyuman yang mengiringinya menghadap sang pemilik kehidupan.

Senyum yang juga diberikan ayahnya saat ia pergi meninggalkan dunia fana ini. Airmata tak lagi bisa kubendung saat kutatap lekat wajah bidadari kecilku itu, seolah ingin kupahat tiap detil wajahnya di dinding hati agar sketsa itu takkan pernah pudar tuk selamanya.

Selamat jalan, sayang. Kau pergi disaat mulia, disaat kau mulai meraba arti kehidupan di usiamu yang belia, disaat kau mulai tertatih belajar mencintaiNya, di Ramadhanmu yang pertama. Kau dapatkan kebahagiaan orang yang berpuasa, kebahagiaan akan perjumpaan denganNya.

Bunda mencintaimu, nak. Sangat, namun ternyata cintaNya padamu telah menguntum saat cinta bunda masih berputik. Bunda sadar cintaNya akan lebih bisa membuatmu bahagia. Dia jauh lebih mencintaimu, sayang.

Hingga Dia tak rela kau dibius cinta dunia, karena itu Ia ingin kau ada di sisiNya. Bunda janji, bunda akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa memelukmu lagi. Do'akan bunda, ya nak. Bunda sayang Ila, nak.

- Penulis : Nur Akmaliyah -